Purbaya Yudhi Sadewa: Jangan Anggap Pertumbuhan Ekonomi 8% Mustahil!
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penyimpanan Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa bicara lugas mengenai prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Purbaya juga bukan sosok yang meragukan potensi pertumbuhan bisa mencapai angka seperti yang ditargetkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto sebesar 8% di tahun 2029. Baginya pertumbuhan ekonomi 8% memang bukan hal yang mustahil bisa dicapai
Disampaikan saat podcast Konvergensi bersama CEO Investortrust. Primus Dorimulu pada Kamis (27/3/2025), baginya, peluang untuk bertumbuh seperti yang ditargetkan pemerintah amat terbuka. Faktanya pertumbuhan di atas 5% pernah terjadi di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)."Kalau kita lihat waktu zamannya Pak SBY, ekonomi kita di-drive oleh utamanya sektor swasta. Pemerintahnya enggak pengin membangun infrastruktur besar-besaran iya, tapi dia bisa tumbuh 6%," ujar Purbaya.
Pada era pemerintahan SBY, kata Purbaya, perekonomian nasional didorong utamanya oleh sektor swasta. Ikut berperannya sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi menurut Purbaya setidaknya bisa dilihat dari tingkat kucuran kredit pada saat itu yang bisa bertumbuh antara 17% hingga 20%.
Tingginya tingkat kucuran kredit perbankan tentunya terkait erat dengan peran sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasalnya kredit perbankan berfungsi sebagai sumber pendanaan utama bagi dunia usaha.
Baca Juga
Bos LPS Sebut Sejatinya Indonesia Tak Alami Deflasi di Januari – Februari 2026, Ini Alasannya
Kredit perbankan memungkinkan sektor swasta untuk membiayai investasi, memperluas produksi, dan meningkatkan kapasitas bisnisnya. Dengan adanya pendanaan yang cukup, perusahaan dapat membeli peralatan baru, memperluas pabrik, atau mempercepat inovasi produk dan layanan. Hal ini mendorong pertumbuhan ekonomi karena meningkatkan output dan lapangan kerja.
Sayangnya, lanjut Purbaya, peran sektor swasta menurun di era 10 tahun terakhir di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kendati pada era Jokowi pembangunan infrastruktur dikembangkan secara masif, sayangnya sektor swasta seperti kekurangan pemantik untuk ekspansi. Setidaknya Purbaya menyimpulkan hal tersebut dari tingkat kucuran kredit industri perbankan sebagai pelumas sektor industri, yang hanya bertumbuh di kisaran 7% saja. “Jadi sektor swastanya enggak ‘main’,” kata Purbaya.
Ia juga menyoroti dalam periode 20 tahun terakhir, mesin ekonomi domestik kerap mengalami kepincangan. Ketika pada 10 tahun pertama konsumsi masyarakat dan sektor swasta bisa ikut berperan menggerakan pertumbuhan, sayangnya pengembangan infrastruktur kurang mendapatkan dorongan. Sementara pada 10 tahun berikutnya pembangunan infrastruktur cukup dominan, tapi sektor swasta seperti kurang darah.
Baca Juga
Bos LPS: Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Terhadap Pemerintah Naik Jadi 107,1
Ia berharap ke depan dua mesin perekonomian tadi bisa dihidupkan secara bersamaan, yakni spending atau belanja pemerintah di sektor infrastruktur tetap berjalan, di sisi lain sektor swasta juga ikut mendapatkan porsi.
“Kalau ke depan bisa diaktifkan dua-duanya, tumbuh 6%-7% itu gampang. Belum lagi (ditambah) program-program (Quick Win pemerintah ) jalan. Harusnya sih tahun ini 5,5% sampai 6% bisa tercapai kalau yang tadi (dua mesin ekonomi) diperbaiki dua-duanya jalan ya, fiskal, moneter sama private sektornya. Tahun depan 6,5% sampai 7% bisa. Ya tahun depannya lagi bisa delapan. Kalau mereka mau jalankan,” kata Purbaya.
“Jadi jangan menganggap tumbuh 8% itu hal yang mustahil. Bisa kalau kita mau,” tegasnya.

