Rupiah Merosot, Pengamat Sebut Lebaran Dihantui Pelemahan Daya Beli
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup merosot dalam perdagangan awal pekan, Senin (24/03/2025) sore ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar mata uang Garuda melemah 61 poin (0,36%) ke level Rp 16.561 per dolar Amerika Serikat.
Dalam perdagangan di pasar spot valas berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah anjlok 56 poin (0,34%) ke level Rp 16.550 per dolar AS. Kemarin, kurs rupiah berada di posisi Rp16.494 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkap, akibat lesunya sektor industri, banyak perusahan yang bangkrut. Hal ini berimbas terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.
"Itu membuat Lebaran tahun ini masih dibayang-bayangi sentimen daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih, sejak akhir tahun lalu," ungkap dia dalam laporan tertulis, Senin (24/03/2025).
Baca Juga
Deflasi Jelang Lebaran
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024, Indonesia mengalami deflasi month to month selama lima bulan berturut-turut dari Mei hingga September. Kemudian, terjadi lagi di dua bulan pertama tahun 2025.
"Padahal, Lebaran merupakan periode musiman yang selalu diharapkan oleh pelaku usaha untuk meningkatkan bisnisnya, sekaligus momentum yang diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat. Pasalnya, perputaran uang selama periode Lebaran biasanya cenderung meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa, seiring dengan naiknya aktivitas belanja masyarakat, perjalanan wisata, dan konsumsi barang serta jasa," ujarnya.
Baca Juga
Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok Sempat di Bawah 6.000, Nyaris Trading Halt
Bagi dunia usaha, Lebaran selalu menjadi salah satu pendorong penting bagi sektor ritel, pariwisata, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi. Aktivitas mudik yang melibatkan ratusan juta masyarakat dari berbagai daerah biasanya memberikan efek berantai terhadap sektor-sektor tersebut.
Risiko Perang Dagang AS
Dari sentimen global, lanjut dia, pelaku pasar menilai ada potensi risiko dari penaikan tarif perdagangan AS yang akan datang. Pasar bersikap hati-hati menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump berencana menerapkan pendekatan yang lebih selektif terhadap tarif timbal balik mulai 2 April.
Alih-alih mengenakan tarif yang luas di seluruh industri, pemerintahan Trump diharapkan fokus pada negara-negara dengan ketidakseimbangan perdagangan yang signifikan dengan AS, menurut laporan Wall Street Journal. "Langkah-langkah baru tersebut dapat memengaruhi sekitar 15% negara dengan (AS mencatatkan) defisit terus-menerus," sebut Ibrahim.
Selain itu, lanjut dia, delegasi AS akan mencari kemajuan menuju gencatan senjata di Laut Hitam. Delegasi juga mengupayakan penghentian kekerasan yang lebih luas dalam perang di Ukraina, ketika mereka bertemu untuk berunding dengan pejabat Rusia pada hari Senin. Ini setelah berdiskusi dengan diplomat dari Ukraina pada hari Minggu.

