Idulfitri Diproyeksi Bakal Diikuti 'Low Season', Pemerintah dan Pengusaha Siapkan Strategi Kerek Konsumsi Publik
JAKARTA, investortrust.id - Hari Besar Keagamaan dinilai menjadi salah satu pendorong menggeliatnya perekonomian Indonesia. Faktor musiman ini faktanya selalu diikuti oleh meningkatnya konsumsi masyarakat.
Tetapi, pada 2025, jarak antara Hari Natal dan Tahun Baru dengan Ramadan dan Idul Fitri tak lebih dari empat bulan. Pendeknya rentang waktu antar hari besar keagamaan ini membuat khawatir pengusaha. Sebab, setelah puncak transaksi penjualan pada Ramadan dan Idulfitri, selalu diikuti oleh low season.
“Low season-nya tahun lalu itu dalam,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja, di Mall Lippo Nusantara, Jakarta, Jumat (14/3/2025).
Alphonzus mengatakan low season ini terjadi karena daya beli masyarakat yang terganggu. Utamanya, pada kelas menengah ke bawah.
Baca Juga
Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Usul Diskon 11% untuk Tarik Wisatawan ke Indonesia
“Tahun ini, low season-nya panjang karena Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal. Yang kami hindari adalah jangan sampai dengan low season ini panjang dan dalam,” jelas dia.
Untuk mengatasi perubahan faktor musiman ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan siap mendukung program yang bisa mendorong tingkat belanja publik di kuartal II dan kuartal III tahun ini.
Pada akhir kuartal II-2025, diharapkan ada program Belanja di Indonesia Aja (BINA) edisi 'Back to School' dan pada kuartal III terdapat program BINA Hari Kemerdekaan Indonesia.
“Ini karena Natal dan Lebaran makin lama makin dekat,” ujar Airlangga.
Dengan dua program itu, Airlangga berharap ada bantalan bagi pertumbuhan ekonomi. Airlangga akan memantau dukungan yang bisa diberikan pemerintah untuk menggenjot konsumsi yang tengah lesu, sambil menunggu hasil evaluasi pelaksanaan BINA edisi Lebaran 2025.
“Kita optimistis daya beli masyarakat bisa bertahan,” kata dia.

