Proteksionisme Trump Ancam Stabilitas Ekonomi Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) membawa dampak luas bagi perekonomian dunia. Trump menghidupkan kembali proteksionisme dengan meningkatkan tarif impor dan kebijakan anti-globalisasi, serta bersikap keras ke mitra dagang utama.
Ekonom Departemen Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, proteksionisme Trump tidak hanya memengaruhi perekonomian AS, tetapi juga merambat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga
“Dalam situasi ini, dunia menghadapi ancaman baru ketidakstabilan ekonomi akibat kebijakan proteksionisme yang menghambat perdagangan bebas, memperburuk ketidakpastian investasi, serta memicu respons balasan dari negara-negara lain,” ujar Karimi, dalam keterangan resminya, Rabu (12/3/2025).
Proteksionisme Trump yang dibiarkan akan menjadi katalisator resesi global. Indikasi ini terlihat dari ekspor komoditas unggulan beberapa negara ke AS. Komoditas ekspor unggulan Indonesia yang akan menghadapi tantangan, antara lain sawit, karet, dan tekstil.
Sementara itu, investor global menjadi lebih berhati-hati dalam mengalihkan modal ke negara berkembang akibat ketidakpastian perdagangan. Proteksionisme yang dibuat Trump mengakibatkan volatilitas tinggi di pasar keuangan global. Dolar AS yang awalnya menguat kini mulai melemah akibat ketakutan terhadap perlambatan ekonomi. “Mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan akibat ketidakpastian di pasar global,” kata dia.
Karimi menjelaskan, investor mulai menghindari aset berisiko dan memilih emas sebagai safe haven. Harga emas telah mencapai rekor tertinggi di atas US$ 2.900 per ounce, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan Trump.
Baca Juga
Gara-Gara Kebijakan ‘Zig-Zag’ Trump, Pasar Saham AS Kehilangan Lebih dari US$ 4 Triliun
Karimi menjelaskan, saat perdagangan global terganggu, ekspor Indonesia melemah, pertumbuhan ekonomi melambat, dan lapangan kerja terancam. Selain itu, aliran investasi asing ke Indonesia juga bisa terganggu.
Investor akan lebih memilih negara dengan kebijakan yang stabil dibandingkan pasar yang terkena imbas perang dagang. “Jika aliran investasi berkurang, proyek infrastruktur dan sektor manufaktur bisa melambat. Di sektor keuangan, pelemahan rupiah bisa memicu inflasi lebih tinggi,” ucap dia.
Untuk mengantisipasi hal itu, kata dia, Indonesia harus mengambil langkah proaktif. Diversifikasi pasar ekspor menjadi kunci mengurangi ketergantungan pada AS. “Pemerintah harus memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa guna mengamankan akses pasar,” kata dia.
Selain itu, peningkatan daya saing industri dalam negeri harus menjadi prioritas. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan insentif bagi industri manufaktur untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal. Strategi ini tidak hanya mengurangi dampak proteksionisme AS, tetapi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

