Permata Bank Prediksi Ekonomi RI Tumbuh Sedikit di Atas 5% di Tahun 2025
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2025 akan tetap solid dengan pertumbuhan sedikit di atas 5%, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global dan dinamika kebijakan moneter.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas, sementara inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam rentang 2,0 – 2,5%.
"Stabilitas nilai tukar Rupiah, efektivitas kebijakan pemerintah, serta peningkatan investasi domestik akan menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan ekonomi," ujar Josua dalam acara Public Expose & Press Conference 2025 Permata Bank di Permata Bank Head Office, Gedung WTC 2, Jakarta, Jumat (7/3/2025).
Josua menjelaskan, konsumsi domestik dan ekspansi investasi diprediksi menjadi motor utama pertumbuhan. Dimana, hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang berorientasi pada akselerasi pertumbuhan ekonomi.
"Selain itu, pemerintah diharapkan mampu menjaga daya saing ekspor untuk mengimbangi tekanan akibat melemahnya permintaan global di tengah naiknya risiko perang dagang," ungkap Josua.
Sebelumnya, diberitakan investortrust.id, PIER menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap resilient di tengah tantangan global sebesar 5.03% di tahun 2024, dan diproyeksikan pertumbuhannya mencapai 5,0% - 5,2% pada tahun 2025 ini.
"Meski menghadapi berbagai tantangan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Josua dalam acara Media Briefing PIER Economic Review: FY 2024 yang mengulas capaian ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2024, serta proyeksi terbaru tahun 2025 pada Senin (10/2/2025) secara virtual via Zoom.
Josua mengatakan, pihaknya melihat konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dan didukung oleh terkendalinya inflasi serta penerapan kebijakan industri yang dapat mendorong pertumbuhan. Namun, kata Josua, pemerintah perlu terus mendorong investasi dan menjaga daya saing ekspor untuk mengimbangi potensi pelemahan permintaan global.
Lebih lanjut, Josua menyebut, ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2024. Menurut Josua, perlambatan pertumbuhan di beberapa negara mitra dagang utama seperti China berdampak langsung pada ekspor nasional.
Selain itu, harga komoditas utama seperti batubara dan minyak sawit mentah (CPO) yang mengalami fluktuasi turut mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan tahun 2024 tercatat sebesar US$ 31,04 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai US$ 36,89 miliar.

