Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.315/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah masih bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas, Kamis (06/03/2025) sore. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah menguat 56 poin (0,34%) ke level Rp 16.315 per dolar AS.
Sementara pada perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda melemah 16 poin (0,10%) ke level Rp 16.325 per dolar AS. Pada hari sebelumnya, rupiah menguat terhadap greenback di level Rp 16.309.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti Gedung Putih yang mengumumkan pada hari Rabu pengecualian selama satu bulan dari tarif baru sebesar 25% yang dikenakan pada impor kendaraan dari Meksiko dan Kanada. "Namun sentimen masih tetap rapuh, karena Presiden AS Donald Trump tidak membuat pengecualian dalam tarif 20%-nya terhadap Tiongkok. Hal itu memicu kemarahan dan pembalasan dari Beijing," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (06/03/2025).
Baca JugaSWF Juga Dana untuk Pembangunan Pangan, Tak Sekadar Bangun Infrastruktur
Hapus Tarif 10% Impor Energi Kanada?
Di sisi lain, sumber yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dapat menghapus tarif 10% pada impor energi Kanada, seperti minyak mentah dan bensin, yang mematuhi perjanjian perdagangan yang ada. Gedung Putih mengatakan Trump terbuka untuk mempertimbangkan lebih banyak pengecualian tarif setelah berlaku pada hari Selasa. Bloomberg melaporkan Trump berencana untuk mengecualikan produk pertanian tertentu dari tarif yang dikenakan pada Kanada dan Meksiko.
"Pasar sekarang menunggu lebih banyak isyarat tentang suku bunga AS. Data utama adalah penggajian nonpertanian untuk Februari yang akan dirilis pada hari Jumat," ungkapnya.
Baca Juga
Setiap tanda-tanda kekuatan yang terus-menerus di pasar tenaga kerja memberi Federal Reserve lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi, untuk waktu yang lebih lama. Hal ini positif bagi dolar.
"Selain itu, Investor mencerna janji-janji tentang lebih banyak langkah stimulus dari Cina yang disampaikan pada pertemuan pemerintah tingkat tinggi minggu ini. Kebijakan itu untuk menyegarkan ekonominya yang melambat, dengan menetapkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2025 sekitar 5%," paparnya.

