Manufaktur Harus Sumbang 25% dari PDB untuk Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi 8% di 2029
JAKARTA, investortrust.id – Perwakilan UN Industrial Development Organization (UNIDO) untuk Indonesia, Timor Leste, dan Filipina, Marco Kamiya, menegaskan bahwa kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) harus mencapai 25% agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai angka 8%. Hal ini disampaikannya dalam sesi diskusi “Getting Industrial Policy Right for Indonesia” pada hari kedua Indonesia Economic Summit (IES) 2025.
“Indonesia perlu mencapai pertumbuhan ekonomi 8% secara berkelanjutan, bukan hanya sesekali, jika ingin mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045,” ujar Marco.
Berdasarkan data Bank Dunia, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB Indonesia pada 2023 mencapai 19%, meningkat dari 18% pada 2022. Namun, angka ini masih jauh dari puncaknya pada 2002 yang mencapai 32%. Tren penurunan ini menunjukkan bahwa upaya penguatan industri manufaktur masih perlu ditingkatkan.
Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), aliran penanaman modal asing (PMA) ke sektor primer seperti pertanian dan perkebunan turun menjadi 12,2% dari total PMA pada 2024, dibandingkan 18,7% pada 2010. Sementara itu, investasi di industri sekunder, terutama pengolahan mineral, melonjak dari 20,6% pada 2010 menjadi 58,5% pada 2024.
Baca Juga
Industri Manufaktur Jadi Andalan Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%, Ini Alasannya?
Marco mengusulkan tiga strategi utama untuk memperkuat sektor manufaktur, mulai dari meningkatkan adopsi teknologi baru di perusahaan besar maupun UMKM; mempercepat transformasi digital untuk meningkatkan produktivitas industri; mendorong kewirausahaan guna menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan inovasi.
Namun demikian, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, menyoroti sektor informal yang masih menjadi sumber utama lapangan kerja di Indonesia, sementara tenaga kerja terampil masih terbatas.
“Sekitar 80 juta orang Indonesia bekerja di sektor informal, dan 40% tenaga kerja hanya memiliki pendidikan SD, sementara 20% lainnya hanya lulusan SMP. Kita tidak bisa mengharapkan mereka langsung bekerja di sektor teknologi atau manufaktur canggih,” jelas Yose. Ia menekankan perlunya revitalisasi industri padat karya agar lebih banyak pekerja dapat beralih ke sektor formal.
Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) ke sektor manufaktur dan industri teknologi tinggi.
CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau, mengungkapkan bahwa VinFast berencana menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, karena melihat potensi besar Indonesia sebagai pusat manufaktur masa depan.
Dengan kombinasi investasi asing, peningkatan kapasitas industri dalam negeri, dan transformasi digital, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB menjadi 25% dan mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, sebagai langkah menuju Visi Indonesia Emas 2045. (C-13)

