Raden Pardede Ungkap Alasan Kelas Menengah Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Senior Raden Pardede mengungkapkan, kelas menengah (middle class) merupakan kunci utama dari pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu, jika Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, maka jumlah kelas menengahnya juga harus diperbanyak.
Raden memaparkan, beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) terbesar berasal dari sisi konsumi dan investasi. Sehingga perlu dilakukan penyesuaian upah yang dikaitkan dengan produktivitas tenaga kerja, demi mendorong permintaan high-skilled workers. Meningkatnya permintaan pada high skill worker tentunya akan ikut bertumbuhnya jumlah kelas menengah domestik, dan pada akhirnya akan ikut mendorong tingkat konsumsi.
“Perbaikan produktivitas menjadi kunci. Produktivitas tenaga kerja dan upah itu satu napas. Gak bisa kita menaikkan upah tanpa perbaikan produktivitas. Tapi, gak bisa juga kita perbaiki produktivitas, tanpa kita juga menaikkan upah,” kata Raden dalam acara Seminar Economic Outlook 2025 dengan tema ‘Menggali Sumber Ekonomi Potensial Menuju Pertumbuhan 8%,’ Jakarta, Kamis (13/2/2025).
Menurut dia, penciptaan lapangan kerja dengan kemampuan (skill) tinggi inilah yang menjadi kunci dalam pertumbuhan ekonomi. Tenaga kerja high skill biasanya adalah kelompok pekerja dengan kategori kelas menengah. Jika pendapatan mereka meningkat dan volume kategori tenaga kerja dengan high skill bertumbuh dan menebal, tingkat konsumsi pun akan terjaga.
Baca Juga
Merosotnya Kelas Menengah Jadi Penyebab Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi
“Kelas menengah itu adalah kunci, motor, daripada pertumbuhan sebuah ekonomi. Tanpa kelas menengah yang tebal, demand terhadap barang-barang tidak ada. Tanpa kelas menengah yang besar, demand terhadap produk Astra tidak ada,” selorohnya.
Disampaikan Raden, saat ini kelas menengah di Indonesia hanya 18% dari total penduduk. Jumlah ini mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Penurunan jumlah kelas menengah dipandangnya sebagai sinyal bahaya, karena kelas menengah ini yang diharapkan mampu meningkatkan angka konsumsi nasional seperti lewat pembelian rumah dan mobil yang mampu menciptakan multiplier effect yang besar.
“Tanpa mereka ini, purchasing power-nya tidak akan mungkin untuk membeli mobil dan rumah. Mobil dan rumah ini sangat penting karena dia mempunyai dampak multiplier yang sangat besar sekali,” ujar Raden.
Bukan hanya itu, semakin banyaknya kelas menengah maka juga akan membuat daya beli masyarakat meningkat. Dia menegaskan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% tidak bisa hanya dilakukan oleh segelintir orang saha.
“Harus 70-80% dari penduduk Indonesia juga ikut kontribusi di situ. Tanpa itu, tidak sustainable juga. Kita harus menciptakan pekerjaan yang layak. Kemudian ekspansi dari middle class, karena middle class yang besar itu mempunyai daya beli yang besar, maka permintaan terhadap barang akan naik,” terang Raden.

