Indonesia Emas 2045 Butuh Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi 6-8%
JAKARTA, investortust.id – Target Indonesia Emas pada 2045 membutuhkan akselerasi pertumbuhan ekonomi hingga 6-8% per tahun. Pasalnya, visi tersebut menggambarkan posisi Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia.
“Selain itu, Indonesia perlu menjadi adaptif dan antisipatif terhadap perubahan tren global, baik di sisi ekonomi, sosial, maupun politik,” jelas Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Arief Wibisono dalam Seminar Economic Outlook 2025 bertema ‘Menggali Sumber Ekonomi Potensial Menuju Pertumbuhan 8%’ yang diselenggarakan investortrust.id di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (13/2/2025).
Baca Juga
Namun Arief mengakui bahwa kondisi geopolitik turut memengaruhi upaya pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonominya. Selain geopolitik, aspek yang turut menjadi tantangan Indonesia adalah perang dagang, ketidakpastian arah kebijakan moneter global, meningkatnya utang publik, hingga isu perubahan iklim.
Prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2024 dan 2025 diprakirakan masih stagnan pada level yang relatif rendah. Mengingat, situasi ekonomi global saat ini masih sangat dinamis dengan ketidakpastian yang tinggi.
“Pada 2024 ada 60 pemilihan umum di dunia, termasuk Indonesia. Jadi benar-benar 2025 adalah tahun penuh tantangan. Tetapi itu sudah kita prediksi di nota keuangan,” sambung Arief.
Di tengah tantangan tersebut, perekonomian Indonesia masih kuat dengan tumbuh 5,03% (yoy) pada 2024 dan diprakirakan tumbuh 5,2% (yoy) tahun ini. Pertumbuhan, di antaranya didukung konsumsi domestik yang relatif kuat dan investasi yang tetap tumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi diyakini mampu menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Baca Juga
Kemenaker Bakal Polisikan Ormas Bergaya Preman yang Hambat Investasi
Arief memastikan, masing-masing anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkolaborasi menghasilkan bauran kebijakan untuk mendukung program pemerintah dan mencapai tujuan pembangunan nasional.
Sebagai informasi, KSSK terdiri atas Kemenkeu, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). “Peran sektor keuangan ditingkatkan untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi,” tegas Arief.
Pemerintah juga optimistis jumlah penduduk Indonesia pada 2045 akan mencapai 324 juta jiwa, dengan 70% di antaranya merupakan kelas menengah dan tingkat kemiskinan tersisa hanya 0,7%.
APBN sebagai salah satu sumber pertumbuhan pun dipastikan akan melanjutkan fungsinya sebagai peredam kejut (shock absorber) dan agen pembangunan dengan tetap menjaga stabilitas, melindungi daya beli, dan keberlanjutan fiskal.
“APBN tahun 2025 mendorong optimalisasi pendapatan dan belanja yang efisien, serta produktif untuk akselerasi agenda pembangunan,” tegas Arief.

