Rupiah Menguat usai Sri Mulyani Umumkan Pendapatan Negara Naik 2,1%
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat dalam penutupan perdagangan valas, Senin (6/1/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah menguat 24 poin (0,14%) ke level Rp 16.193/USD, dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp 16.217/USD.
Di sisi lain, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank yang dilansir Yahoo Finance saat ini tergelincir tipis 6 poin (0,04%), ke level Rp 16.190/USD. Sedangkan pagi tadi, Yahoo Finance mencatat mata uang Garuda sempat menguat 0,05% terhadap dolar AS.
Menguatnya nilai tukar rupiah bertepatan usai Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengumumkan pendapatan negara 2024 mencapai Rp 2.842,5 triliun atau naik 2,1% secara tahunan (yoy) atau dibanding 2023. Pendapatan negara pada 2024 berasal dari penerimaan pajak Rp 1.932,4 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 300,2 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 579,5 triliun, dan hibah Rp 30,3 triliun.
"Pasar juga terus mengamati laporan APBN 2024 yang mencatatkan defisit Rp 507,8 triliun atau setara 2,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit itu melebar dari capaian tahun sebelumnya atau 2023, yaitu Rp 347,6 triliun atau 1,65% terhadap PDB," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Senin (6/1/2025)
Baca Juga
Pendapatan Negara Naik 2,1% ke Rp 2.842,5 Triliun, Belanja Melonjak 7,3% ke Rp 3.350,3 Triliun
Secara keseluruhan, Menkeu mengatakan, defisit APBN 2024 memang didesain 2,29% terhadap PDB. Artinya, pemerintah sudah memperkirakan defisit APBN 2024 akan lebih besar dari 2023.
"Pemerintah sempat memperkirakan bahwa defisit APBN 2024 akan melebar hingga 2,7%, karena kondisi makroekonomi semester I-2024 begitu berat," imbuh Sri Mulyani.
Target awal defisit APBN adalah Rp 522,8 triliun. Namun, Menteri Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat sempat menyepakati defisit melebar menjadi Rp 609,7 triliun atau setara 2,70% terhadap PDB.
"Pada semester I-2024 sempat terjadi tekanan harga pangan akibat El Niño, tingginya harga minyak, hingga perlambatan ekonomi Cina, yang memengaruhi prospek ekonomi Indonesia dan APBN," katanya.
Baca Juga
Pendapatan Negara Tembus Rp 2.842,5 Triliun Melebihi Target, Pajak Shortfall

