Investasi Tergantung Kepastian Hukum dan Pemberantasan Korupsi, Sektor Energi Makin Berperan
Oleh Hasan Zein Mahmud,
Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) Tahun 1991-1996
INVESTORTRUST.ID – Sahabat Investor, di bursa saham Indonesia, tahun 2024 adalah tahun yang buruk. Walau indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat mencatatkan rekor tertinggi pada bulan September, 2024 ditutup dengan penurunan 2,65%. Selama 10 tahun terakhir, penurunan itu hanya kalah dari tahun saat pandemi Covid-19 melanda, tahun 2020, dengan mencatatkan penurunan 5,09%.
Penurunan itu menempatkan IHSG sebagai indeks saham terburuk di ASEAN. Itu terjadi ketika bursa bursa dunia mengalami rally. Di Amerika, indeks Nasdaq naik 22,26%, S&P menambah nilai 18,90% dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) 11,41%. Di Asia, indeks Nikkei 225 naik 15,11% dan indeks bursa Taiwan bahkan mencatat kenaikan fantastis, 29%!
Baca Juga
Transaksi Kripto Tidak Kena PPN 12%, Exchange Batalkan Rencana Kenaikan Tarif Pajak?
Capital Outflows
Penurunan IHSG itu seiring dengan modal asing juga memperlihatkan kecenderungan pergi meninggalkan pasar keuangan Indonesia. Arus modal di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memperlihatkan tren itu. Di pasar saham, walaupun secara total masih menunjukkan capital inflows hampir Rp 16 triliun, namun di segmen pasar regular – indikator yang lebih objektif – tercatat capital outflows sebesar hampir Rp 29 triliun.
Di tahun 2024 rupiah juga mengalami depresiasi tajam. Sempat menembus Rp 16.400 per USD. Sebagian bisa difahami, karena DXY – indeks USD terhadap enam mata uang utama dunia – naik 6,29% selama 2024. Namun, karena rupiah menjadi mata uang ke 5 terburuk di dunia, saya kira lebih dari sekedar karena faktor penguatan USD.
| Perkembangan rupiah terhadap USD berdasarkan kurs Jisdor BI dalam lima tahun terakhir, hingga 30 Desember 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Menjaga stabilitas rupiah, menurut saya, akan menjadi salah satu tantangan berat ekonomi Indonesia 2025. Dari eksternal, kebijakan proteksionistis Presiden Terpilih AS Donald Trump akan memicu penguatan USD.
Hal ini juga berdampak inflasi di negara dengan perekonomian terbesar tersebut, yang akan menahan penurunan tingkat bunga The Fed. BRICS ++ (organisasi intergovernmental Brasil, Rusia, India, Cina, South Africa, Iran, Mesir, Ethiopia, dan United Arab Emirates) yang semula bersemangat untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan global terhadap dolar, nampaknya tak mudah mencapai konsensus tentang mata uang devisa/alat penyelesaian transaksi internasional yang baru, karena kondisi internal masing-masing negara anggota yang berbeda-beda.
Butuh Pembuktian Efektivitas Kebijakan
Di dalam negeri, masih dibutuhkan waktu bagi pemerintahan baru untuk membuktikan efektivitas kebijakannya. Kebijakan mencekik leher rakyat – kenaikan PPN – di detik-detik terakhir menjelang tutup tahun, diberikan interpretasi ulang yang lebih ramah bagi akar rumput. Mudah mudahan – bersama dengan bantuan sosial dan insentif lain – mampu mempertahankan daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat.
Arus investasi, perkiraan penulis, masih wait and see. Kuncinya pada kepastian hukum dan pemberantasan korupsi.
Narasi pemberantasan korupsi sudah menggelegar. Tapi, realisasinya masih sangat menyedihkan.
Sementara itu, hilirisasi berpeluang besar meningkatkan industrialisasi di dalam negeri. Sektor perkebunan dan pertanian – setidaknya dalam program – akan menyusul sektor tambang dan mineral. Namun, peningkatan ekspor masih tetap tergantung pada peningkatan aktivitas ekonomi di negara-negara mitra dagang utama, seperti Cina, India, dan Uni Eropa.
AI & Sektor Energi Mendominasi
Bursa saham global pada 2024 tercatat didominasi oleh sektor artificial intelligence (AI) dan energi. Dua sektor ini menjadi spiral yang saling mendukung. Indeks saham Amerika dikendalikan oleh magnificent seven - Alphabet, Amazon, Apple, Meta Platforms, Microsoft, NVIDIA, dan Tesla – melanjutkan dominasi 2023.
Di bursa saham dalam negeri, di tengah koreksi IHSG, sektor energi mencatat kenaikan lebih dari 26% tahun lalu. Tren itu, perkiraan penulis, bukan hanya akan berlanjut di 2025, tapi perannya dalam agregat pasar akan semakin besar pula.
Jabat erat 2025. Salam toa cuan. ***

