Neraca Pembayaran Indonesia Berada di Lampu Kuning
JAKARTA, investortrust.id – Meski terjadi perbaikan di kuartal III, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kumulatif selama tiga kuartal (Januari-September) mencatat defisit US$ 2,31 miliar. Defisit NPI ini boleh dibilang berada di lampu kuning dan perlu diwaspadai.
Sebab, selama empat tahun terakhir, yakni periode 2019-2022, neraca pembayaran Indonesia selalu surplus. Pada 2021, surplus NPI bahkan mencapai US$ 13,4 miliar, kemudian tahun 2022 suprlus tersebut menurun jadi US$ 4 miliar.
Meski demikian, kinerja NPI pada kuartal III 2023 membaik di tengah meningkatnya ketidakpastian di perekonomian global. NPI pada kuartal III 2023 menunjukkan perbaikan signifikan dengan mencatat defisit US$ 1,5 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 7,4 miliar.
Menurut Direktur Eksekutif Bank Indonesia, Erwin Haryono, perbaikan NPI pada kuartal III-2023 ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial yang membaik.
Neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2023 membaik ditopang oleh perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan jasa yang tetap solid. Transaksi berjalan mencatat defisit sebesar US$ 0,9 miliar atau 0,2% dari PDB. Level ini jauh menurun dibandingkan dengan defisit US$ 2,2 miliar (0,6% dari PDB) pada kuartal sebelumnya.
Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat didukung oleh perbaikan permintaan beberapa komoditas ekspor, terutama besi dan baja, di tengah tren harga komoditas yang masih turun. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia.
“Perbaikan neraca transaksi berjalan turut ditopang oleh penurunan defisit jasa, yang didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara seiring dengan pemulihan sektor pariwisata yang terus berlangsung. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga menurun sejalan dengan pembayaran imbal hasil kepada investor asing yang lebih rendah,” kata Erwin, Selasa (21/11/2023).
Kinerja transaksi modal dan finansial juga membaik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Transaksi modal dan finansial pada kuartal III 2023 mencatat defisit US$ 0,3 miliar (0,1% dari PDB), jauh lebih rendah dibandingkan dengan defisit US$ 4,8 miliar (1,4% dari PDB) pada kuartal sebelumnya. Rendahnya defisit transaksi modal dan finansial ini didukung oleh berlanjutnya investasi langsung sebagai cerminan dari tetap terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Investasi lainnya juga mencatat surplus dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri untuk pembiayaan kegiatan usaha korporasi. Sementara itu, investasi portofolio mencatat peningkatan defisit sejalan dengan aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi sebagai dampak dari ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat di tengah aliran modal asing yang masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September tercatat tetap tinggi sebesar US$ 134,9 miliar, atau setara dengan pembiayaan 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai kinerja NPI kuartal III 2023 yang baik mampu terus menopang ketahanan eksternal Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
