Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Ekonomi AS dan Pasar Asia
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah dalam perdagangan Rabu (11/12/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis kurs rupiah melemah 31 poin ke level Rp 15.905/USD, di mana sebelumnya mata uang Garuda berada pada posisi Rp 15.874/USD.
Sementara itu kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank dilansir Yahoo Finance bergerak melemah 51 poin (0.32%) ke level Rp 15.910/USD. Adapun sebelumnya Yahoo Finance mencatat kurs rupiah berada pada posisi Rp 15.859/USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan kurs rupiah pada hari ini tidak lepas akibat tertekan fundamental ekonomi Amerika Serikat (AS) dan gejolak pasar Asia. Investor bersikap hati-hati menjelang data indeks harga konsumen AS, yang akan dirilis hari ini, yang kemungkinan akan menjadi faktor dalam rencana Federal Reserve untuk suku bunga.
"Ketidakpastian atas prospek jangka panjang untuk suku bunga mendorong penguatan dolar, yang menekan mata uang Asia dalam beberapa minggu terakhir," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (11/12/2024).
Baca Juga
Dari pasar Asia, ketegangan China-Taiwan dan Suriah kembali memanas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah pemberontak menggulingkan pemerintah Suriah. Pasar menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi di kawasan tersebut, mengingat hal itu berpotensi melonggarkan cengkeraman Iran di Timur Tengah.
Taiwan menaikkan peringatan setelah China diduga terlibat dalam pergerakan maritim terbesarnya di sekitar pulau itu dalam beberapa dekade. China terlihat mengirim sekitar 90 kapal dalam latihan perang yang dilaporkan di sekitar Taiwan. Ketidakstabilan politik di Korea Selatan juga tetap menjadi fokus, dengan Presiden Yoon Suk Yeol menghadapi tuntutan pidana atas upaya yang gagal untuk memberlakukan darurat militer minggu lalu.
Selain itu, Politbiro Tiongkok memberikan sinyal paling dovish sejauh ini tentang rencana untuk membuka lebih banyak stimulus dan mendukung pertumbuhan. Fokus kini tertuju pada Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) Tiongkok, sebuah pertemuan dua hari yang dimulai pada sore hari.
"CEWC berfungsi sebagai barometer bagaimana Tiongkok akan mengatasi tantangan internal seperti pertumbuhan yang melambat, konsumsi yang lemah, dan tekanan eksternal seperti ketegangan perdagangan," tutup dia.

