RI Butuh Investasi Rp 13.528 Triliun dalam 5 Tahun untuk Kejar Pertumbuhan 8%
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mengungkapkan bahwa untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, maka dalam lima tahun ke depan Indonesia membutuhan investasi sebesar Rp 13.528 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani menyebutkan, di tahun 2024 ini Indonesia masih bisa mendapat pertumbuhan ekonomi kurang lebih 5%. Sedangkan untuk 2025 diprediksi berada pada angka 5,2%. Namun, menurutnya butuh investasi besar untuk bisa mendorong ke angka 8%.
“Diperkirakan pada lima tahun ke depan, rata-rata pertumbuhan investasi adalah 16,75% untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, dan dibutuhkan investasi total selama lima tahun ke depan adalah Rp 13.528 triliun,” kata Rosan dalam Rakornas Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Rabu (11/12/2024).
Rosan menyampaikan, secara rinci untuk tahun 2024 ini Indonesia diharapkan mendapat investasi Rp 1.650 triliun, kemudian Rp 1.906 triliun (2025), Rp 2.280 triliun (2026), Rp 2.680 triliun (2027), Rp 3.116 triliun (2028), dan Rp 3.544 triliun (2029).
“Jadi ini adalah tugas yang tidak mudah, yang membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari seluruh kementerian, seluruh badan, dan juga sampai dengan provinsi, kabupaten, kota dalam mewujudkan target yang sudah dicandangkan oleh Kementerian Bappenas,” ujar dia.
Baca Juga
Menteri Investasi dan Hilirisasi Ajak Investor Eropa Optimalkan Energi Baru Terbarukan Indonesia
Lebih lanjut, Rosan melaporkan bahwa sejak Januari hingga September 2024, RI sudah mencapai 76,45% dari target pencapaian investasi tahun ini, atau sebesar Rp 1.261,43 triliun.
Dia pun merasa bangga karena kontribusi investasi yang masuk tersebut cukup seimbang antara Pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa. Tercatat, kontribusi investasi di dalam Pulau Jawa kurang lebih mencapai 50,34% (Rp 635 triliun), sedangkan di luar Pulau Jawa 49,66% (Rp 626,43 triliun).
“Jadi kontribusinya alhamdulillah ini hampir sama 50%. Dan yang paling penting adalah penyerapan tenaga kerjanya yang mencapai 1.875.214, karena PR kita yang paling utama adalah bagaimana kita menciptakan pekerjaan yang berkualitas dan juga berkesinambungan,” sebut Rosan Roeslani.
Baca Juga
Apple dan Tax Holiday, Bagaimana Dampak bagi Investasi Asing?

