Gubernur BI: Transformasi Ekonomi Perlu Sasar 5 Area Penting Ini
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan perlu sinergi bauran kebijakan transformasi ekonomi yang menyasar lima area. Sinergi ini bisa menjadi kunci ketahanan menghadapi gejolak global.
“Pertama, sinergi memperkuat stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan,” kata Perry, saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, di Jakarta, Jumat (30/11/2024).
Baca Juga
Meski IHSG Anjlok 1,13% Sepekan, 4 Saham Ini malah Cuan 60-94%
Kedua, Perry mengatakan, perlu mendorong permintaan domestic, khususnya konsumsi dan inovasi. Ketiga, sinergi peningkatan produktivitas dan kapasitas ekonomi nasional.
“Keempat, sinergi pendalaman keuangan untuk pembiayaan perekonomian dan kelima, sinergi digitalisasi sistem pembayaran dan ekonomi keuangan digital nasional,” kata dia.
Perry mengatakan, stabilitas sangatlah penting bagi negara manapun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Saat ini, kredibilitas Indonesia diakui secara internasional sebagai negara dengan disiplin tinggi. “Itulah kunci ketahanan menghadapi gejolak global,” ucap dia.
Baca Juga
Prabowo Subianto Ingatkan Gubernur BI, Menkeu, dan Ketua Dewas OJK Jaga Kedaulatan Mata Uang
Perry juga menambahkan penting untuk menjaga sinergi fiskal dan moneter kian erat ke depan. Sinergi ini untuk mengatasi inflasi, defisit fiskal, stabilisasi rupiah, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah dan juga operasi moneter BI, serta efektivitas dalam peraturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Dalam kesempatan itu, Perry juga mengingatkan, peran penting konsumsi dari sisi permintaan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Utamanya untuk golongan masyarakat bawah.
“Dengan perlinsos dan penciptaaan lapker. sektor padat karya perlu jadi prioritas pemeritah, hilirisasi pertanian, perumahan khususnya perumahan rakyat, UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata,” ujar dia.
Baca Juga
Perry: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik hingga 5,6% Tahun 2025
Dia mengatakan, hilirisasi pangan dapat menciptakan lapangan kerja yang besar untuk mendukung pengendalian inflasi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Pertumbuhan tinggi juga memerlukan transformasi di ekonomi di sektor riil. Produktivitas harus kita tingkatkan lebih tinggi. Tingginya biaya invest perlu kita turunkan mengejar ketertinggalan PMA dari negara tetangga,” ujar dia.
Untuk itu, Perry menyarankan, perbaikan iklim investasi untuk meningkatkan modal yang masuk. Selain itu, dia menyarankan akselerasi realisasi PMA yang dapat mendorong sektor padat modal.
Dia mengatakan bahwa peningkatan tenaga kerja perlu didorong dengan pendidikan vokasi, termasuk sertifikasi profesi dan stimulus di sektor padat karya. Sementara itu, produktivitas perlu ditingkatkan dengan infrastruktur dan rantai pasok nasional ke global. “Digitalisasi ekonomi sistem pembayaran jasa keuangan dan perkantoran juga bisa menaikan produktivitas,” ucap dia.

