Indonesia Sasar Jadi Anggota OECD, Kemenperin Pacu Transformasi Digital
JAKARTA, investortrust.id - Sejalan dengan persiapan Indonesia untuk bisa diterima menjadi anggota Organization of Economic Co-Operation and Development (OECD), Kementerian Perindustrian memacu transformasi digital lewat program e-Smart IKM. Transformasi digital industri juga sudah termasuk dalam agenda Making Indonesia 4.0, yang dicanangkan sejak 2018.
“Indonesia tengah menyiapkan diri menjadi anggota OECD. Adapun salah satu syarat untuk bergabung dalam OECD adalah memiliki arah pengembangan industri berupa transisi Industri Hijau dan adopsi teknologi digital, guna mendorong efisiensi energi dan sumber daya lainnya pada sektor industri melalui digitalisasi, pada setiap tahapan proses bisnis,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita dalam keterangan di Jakarta, 11 Nopember 2023.
Baca Juga
Triwulan III, Sektor Industri Manufaktur Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Ia menjelaskan, transformasi digital industri merupakan isu prioritas yang sedang difokuskan di Indonesia. Dalam forum internasional, transformasi digital menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Upaya peningkatannya perlu mendapatkan perhatian khusus, karena berimbas pada peningkatan potensi ekonomi digital.
E-commerce RI Rp 572 Triliun
Merujuk prediksi Bank Indonesia, transaksi e-commerce Indonesia berpotensi mencapai Rp 572 triliun hingga akhir tahun 2023. Hal ini didukung banyaknya pengguna internet dan pengguna e-commerce.
Baca Juga
Gandeng Sejumlah Kampus, Bank Jago Rilis Program Jago Digital Academy
Laporan “Digital 2023: Indonesia” mencatat, terdapat 212 juta pengguna internet di Indonesia per Januari 2023,dengan penetrasi internet mencapai 77%. Sedangkan Statista Market Insights melaporkan ada 179 juta pengguna e-commerce di Indonesia tahun 2022, dan diprediksi mencapai 196 juta pada 2023.
“Sebenarnya ini peluang yang harus dimanfaatkan. Sekarang hanya bermodal smartphone, pelaku usaha bisa memperluas pasar dan meningkatkan penjualan, tanpa perlu keluar biaya dan energi besar dibanding cara pemasaran konvensional. Jadi, sudah murah, mudah, efektif juga, sangat cocok untuk pelaku IKM (industri kecil dan menengah),” lanjutnya.
Making Indonesia 4.0
Dalam lingkup Kementerian Perindustrian, transformasi digital industri termasuk dalam agenda Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan sejak 2018. Gerakan ini tidak hanya meliputi industri skala besar, namun juga IKM.
"Dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, IKM diarahkan untuk dapat memanfaatkan perkembangan teknologi melalui penguasaan literasi digital di sisi pemasaran dan penjualan, serta dukungan teknologi di sisi manufaktur untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing produk. Kami memiliki program e-Smart IKM yang membantu pelaku IKM memperluas akses pasar melalui pemasaran digital. Kami bekerja sama dengan marketplace ternama seperti Tokopedia, Shopee, BliBli, BukaLapak, dan juga asosiasi e-commerce Indonesia (idEA)," papar Reni.
Ia mengatakan, program e-Smart IKM itu sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Gernas BBI ini merupakan gerakan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal.
"Pemasaran digital menjadi keahlian yang harus dikuasai oleh pelaku usaha mana pun di era modern. Didorong oleh kondisi pandemi Covid-19 yang sempat melanda Indonesia dan peningkatan penetrasi teknologi digital, konsumen mengalami perubahan selera berbelanja, dari yang semula belanja secara konvensional dengan mengunjungi toko menjadi belanja daring (online),” ujarnya.

