Kurs Rupiah Masih Tertekan dari Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah masih tertekan akibat tren menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis dalam penutupan perdagangan Rabu (13/11/2024), mata uang rupiah melemah 11 poin ke level Rp 15.782/USD. Adapun dalam penutupan perdagangan Selasa (12/11/2024) kemarin, Rp 15.771/USD.
Sementara dilansir dari Yahoo Finance, kurs rupiah menguat tipis 4 poin (0.03%) ke level Rp 15.770/USD. Diketahui dalam penutupan perdagangan terakhir, Yahoo Finance merilis mata uang rupiah ditutup melemah pada level Rp 15.774/USD.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menganalisis, pasar beralih ke data inflasi indeks harga konsumen yang akan datang untuk isyarat lebih lanjut tentang suku bunga. Pembacaan tersebut diharapkan menunjukkan inflasi tetap stabil pada bulan Oktober, yang menjadi pertanda buruk bagi taruhan pada pelonggaran moneter berkelanjutan oleh Federal Reserve.
Kemenangan pemilihan Trump menambah ketidakpastian atas prospek inflasi. Presiden terpilih tersebut secara luas diharapkan untuk meluncurkan lebih banyak kebijakan ekspansif selama masa jabatan keduanya, yang menghadirkan prospek inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.
Baca Juga
Dipengaruhi Nilai Tukar, Ekonom BNI Ramal Suku Bunga Acuan BI Turun Jadi 5,75% di Akhir 2024
"Beberapa komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve juga membebani sentimen, karena Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperingatkan bahwa setiap kenaikan inflasi dapat membuat Fed mempertahankan suku bunga tetap pada bulan Desember," kata Ibraham dalam keterangan tertulis, Rabu (13/11/2024).
Dari pasar Asia, rencana China untuk menambah utang sebesar 10 triliun yuan (US$ 1,4 triliun) sebagian besar tidak memuaskan. Investor kini menunggu lebih banyak langkah fiskal yang bertujuan untuk meningkatkan belanja konsumen dan mendukung pasar properti. Bloomberg melaporkan negara tersebut mempertimbangkan untuk memangkas pajak pembelian rumah untuk mendukung sektor properti, meskipun hal ini tidak banyak membantu menopang saham lokal.
Analis mengatakan Beijing kemungkinan mencari lebih banyak petunjuk tentang kebijakan Trump terhadap negara tersebut, mengingat ia telah berjanji untuk meningkatkan tarif perdagangan atas impor China. China kini diperkirakan akan menguraikan lebih banyak stimulus fiskal selama dua pertemuan politik tingkat tinggi pada bulan Desember.

