Kemenkeu Waspadai Kebijakan Ekonomi AS Setelah Donald Trump Jadi Presiden
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai kebijakan fiskal setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Sri Mulyani menjelaskan pasar mengantisipasi kebijakan ekonomi Donald Trump yang diprediksi akan ekspansif.
“Remind to be seen, karena mereka (AS) punya ambisi untuk memotong belanja hingga US$ 1 triliun dalam waktu 10 tahun, atau US$ 100 miliar per tahun,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Implikasi dari kondisi ini, kata Sri Mulyani yaitu, yield US Treasury 10 tahun akan mengalami kenaikan. Akibatnya, nilai tukar dolar AS akan menguat terhadap berbagai mata uang dunia.
“US Dollar menguat terutama dengan berbagai arah kebijakan Presiden Trump, terutama di bagian penurunan pajak korporasi, ekspansi belanja, untuk yang sifatnya strategis, proteksionisme dengan menaikkan tarif impor,” ujar dia.
Baca Juga
Sri Mulyani mewanti-wanti, ke depan AS tidak hanya menyasar kenaikan tarif impor untuk komoditas dari China. Seperti era periode pertama Trump menjabat sebagai presiden, dia diprediksi akan menyisir semua mitra dagang AS yang menikmati surplus perdagangan dari AS, sebagai target penerapan tarif impor.
“Jadi tidak hanya RRC saja yang kena. Dalam hal ini, ASEAN, Vietnam dan negara lain akan dijadikan poin untuk fokus dan perhatian pengenaan tarif impor ini,” ucap dia.
Sementara itu, dari sisi geopolitik, Sri Mulyani mengantisipasi tidak agresifnya kebijakan penanganan perubahan iklim di bawah Trump. Kebijakan itu, menurut dia, akan memengaruhi komitmen banyak negara terhadap climate change.
“Pengaruhnya, diizinkannya kembali produksi fossil fuel, akan memengaruhi harga minyak dunia dan juga masa depan electric vehicle dengan seluruh rantainya,” jelas dia.

