Kurs Rupiah Ditutup Melemah, Usai Rilis Inflasi Masih Rendah
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas Jumat (1/11/2024) sore, tepat usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi bulanan pada Oktober 2024 yang masih rendah. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar mata uang Garuda melemah 28 poin ke level Rp 15.723/USD.
Pada perdagangan di pasar spot valas sebagaimana dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga bergerak melemah terhadap greenback. Kurs rupiah melemah 25 poin (0,16%) ke level Rp 15.714/USD hingga pukul 15.30 WIB. Sementara pada perdagangan hari sebelumnya, kurs rupiah ditutup di posisi Rp 15.689/USD.
"Pergerakan kurs rupiah dalam perdagangan hari ini tidak lepas dari sentimen internal maupun eksternal. Salah satunya adalah rilis BPS yang mencatat pada Oktober 2024 Indonesia mengalami inflasi sebesar 1,71% secara tahunan (yoy) dan 0,08% secara bulanan (mtm), mengakhiri tren deflasi lima bulan beruntun. Inflasi seperti perkiraan masih rendah, karena deflasi bahan pangan," kata Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual kepada Investortrust, Jakarta, Jumat (1/11/2024).
Baca Juga
Inflasi 2024 Sangat Terkendali, BI Punya Ruang Turunkan Bunga 25 Bps
Harga Emas Terus Melonjak
Berdasarkan data BPS, Indonesia pada Oktober 2024 mencatatkan inflasi sebesar 0,08% secara bulanan. Indeks harga konsumen (IHK) naik ke level 106,01 pada Oktober 2024, dari 105,93 pada September 2024.
Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan inflasi sebesar 0,94 % dan memberikan andil inflasi 0,06%. Sementara itu, komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebsar 0,06%. Harga emas tercatat terus naik dalam 14 bulan terakhir.
Permintaan Dolar Naik
David menjelaskan lenih lanjut faktor dalam negeri yang menekan kurs rupiah. Ini misalnya permintaan dolar AS musiman di akhir tahun juga cukup besar untuk kebutuhan impor energi, bahan baku, dan pembayaran utang.
Sementara dari sentimen eksternal, data pada hari Kamis menunjukkan belanja konsumen AS meningkat sedikit lebih banyak dari yang diharapkan pada bulan September. Ini menempatkan ekonomi AS pada lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi menuju tiga bulan terakhir tahun ini.
Baca Juga
"Bila melihat inflasi menurut ukuran yang ditargetkan The Fed, peningkatan indeks pengeluaran konsumsi pribadi dari tahun ke tahun adalah 2,1% pada September. Ini turun dari 2,3% yang direvisi naik pada bulan Agustus, menurut laporan Departemen Perdagangan AS," paparnya.
The Fed kemungkinan akan melanjutkan pemotongan biaya pinjaman jangka pendek AS sebesar seperempat poin persentase minggu depan. Para pedagang bertaruh pada Kamis, dengan kontrak berjangka menempatkan peluang 94,7% pemotongan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin minggu depan.
"Pasar juga memproyeksikan capres AS Donald Trump akan terpilih. Sehingga, ada (potensi) bullish untuk dolar (AS)," tandas dia.
Ekonom BCA itu memproyeksi dalam jangka pendek mata uang rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 15.650/USD - Rp 15.800/USD.

