Plus Minus Sri Mulyani Lanjut Jabat Jadi Menkeu
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Terpilih Prabowo Subianto memastikan Sri Mulyani akan kembali melanjutkan jabatannya sebagai menteri keuangan (Menkeu) di pemerintahan mendatang. Kepastian itu dikonfirmasi langsung Sri Mulyani saat memenuhi panggilan Prabowo ke kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Senin (14/10/2024) kemarin.
Terkait kepastian Sri Mulyani yang dipastikan akan melanjutkan jabatan menjadi menkeu di pemerintahan Prabowo, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memberikan catatan soal plus minusnya bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti, dipilihnya kembali Sri Mulyani memberikan catatan positif lantaran dirinya memiliki pengalaman bertahun-tahun di posisi yang sama. Diketahui Sri Mulyani telah menjabat sebagai menkeu sejak periode 2005-2010 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kemudian Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut memberikan mandat kepada dirinya sebagai menkeu sejak tahun 2016 hingga saat ini.
"Beliau sudah berpengalaman menghadapi ekonomi yang sulit, pasti sudah mengerti solusinya menjaga kondisi ekonomi yang sudah deflasi 5 bulan berturut-turut dan paham menghadapi krisis," ungkap Esther kepada Investortrust, Rabu (16/10/2024).
Baca Juga
Namun di sisi lain, penunjukkan kembali Sri Mulyani sebagai menkeu bukan tanpa celah. Dia menyebut terdapat catatan minus dari keputusan Prabowo soal penunjukkan Bendahara Negara. "Indonesia gagal melakukan regenerasi dan kaderisasi sampai seorang menteri keuangan terpilih berkali-kali," beber Esther.
Meski demikian Ekonom Universitas Diponegoro (Undip) itu berharap agar ke depan Sri Mulyani mampu memaksimalkan perannya, khususnya dalam rangka menggenjot penerimaan negara. Selain itu dia juga berharap di era Prabowo nanti, Sri Mulyani dapat menekan ketergantungan terhadap utang luar negeri.
"Semoga menkeu ke depan mampu melakukan reformasi perpajakan secara serius dengan begitu ruang fiskal Indonesia meningkat," ungkap dia.
Catatan lain, Esther turut mengkritik keputusan Prabowo yang juga menunjuk 3 orang wakil menteri keuangan (wamenkeu) yang ditugaskan untuk membantu Sri Mulyani. Dia menilai, komposisi 1 menteri dan 3 wamen di tubuh Kementerian Keuangan relatif terlalu banyak. Di era SBY, kata dia, hanya dengan seorang menkeu Indonesia pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga 7%.
"(Jumlah wamen) terlalu banyak, dulu hanya ada satu menteri keuangan ekonomi bisa tumbuh 7%. Kenapa sekarang ada wamenkeu, ekonomi indonesia masih stagnan di 5%," ujar dia.
Diberitakan sebelumnya teka-teki komposisi pembantu Prabowo untuk mengurusi Kemenkeu semakin terlihat. Setelah Sri Mulyani memastikan diri akan melanjutkan tugas sebagai menkeu, posisi wamenkeu juga sudah terlihat sosoknya.
Baca Juga
Dalam menjalankan tugas sebagai menkeu pemerintahan Prabowo-Gibran, Sri Mulyani nantinya akan dibantu oleh 3 wamenkeu. Ketiga bakal wamenkeu pendamping Sri Mulyani adalah antara lain Suhasil Nazara, Thomas Djiwandono serta Anggito Abimanyu. Baik Suhasil, Thomas dan Anggito tampak berdatangan ke kediaman Prabowo di Kertanegara IV, Jakarta, Selasa (15/10/2024).
Usai melakukan pertemuan terbatas dengan Prabowo, Thomas mengaku ditugaskan untuk menjaga keuangan negara guna mendorong agenda-agenda pembangunan dan memperkuat iklim investasi itu. Selain itu, dia menyebut ketiga wamenkeu juga diminta Prabowo untuk mendukung sektor-sektor yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Kami ini trio diberi tugas untuk membantu dari tugas menkeu, tadi pesannya sudah cukup banyak salah satunya adalah optimalisasi penerimaan negara," kata Thomas di Kertanegara, Selasa (15/10/2024).

