Diminta DPR Lakukan Lobi-Lobi, Bahlil: Tunggu Menteri Keuangan yang Baru
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi VII DPR, Ratna Juwita Sari, menyarankan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, untuk melakukan pendekatan proaktif terhadap kubu pemerintah terkait dengan pembagian porsi anggaran.
“Kami berharap agar dari Kementerian ESDM juga proaktif untuk menyampaikan kepada pemerintah, dari sisi pemerintahnya sendiri. Kami yakin, Bapak hari ini kan sedang hit, menteri yang juga Ketua Umum Partai, keren banget,” kata Ratna dalam Rapat Kerja dengan Kementerian ESDM, Kamis (12/9/2024).
Menurut Ratna, Bahlil yang kini menjadi Ketua Umum Partai Golkar dan punya posisi strategis di pemerintahan, dengan berbagai kedekatan yang dimiliki, akan bisa meningkatkan performa Kementerian ESDM ke depan.
Baca Juga
Anggaran Kementerian ESDM 2025 Disepakati Rp 3,91 Triliun, Bahlil Keluhkan Ini
Menanggapi hal ini, Bahlil menyampaikan bahwa untuk melakukan lobi-lobi tersebut tidak bisa dilakukan sekarang. Pasalnya, sebentar lagi akan terjadi pergantian pemerintahan, sehingga orang-orang yang mengisi kursi jabatan kemungkinan berubah, termasuk Menteri Keuangan, yang mengatur porsi anggaran.
“Saya pikir menyangkut dengan lobi-lobi, kita tunggu Menteri Keuangan yang baru saja. Karena memang negara ini kan harus berjalan terus. Terima kasih, Bu (atas sarannya). Saya akan melakukan lobi-lobi atas perintah Ibu,” ujar Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Bahlil merasa tidak puas dengan jumlah anggaran yang diberikan kepada Kementerian ESDM untuk tahun 2025, yakni sebesar Rp 3,91 triliun. Padahal, Kementerian ESDM mengusulkan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) tahun 2025 sebesar Rp 10,8 triliun.
Baca Juga
Prabowo Ingin Kembangkan B50 hingga B100, Kementerian ESDM Ungkap PR Besarnya
Menurut Bahlil, nominal Rp 3,91 triliun tersebut terlalu kecil, mengingat banyak proyek strategis yang dikerjakan oleh Kementerian ESDM. Selain itu, dia juga menyebut bahwa Kementerian ESDM telah menyumbang PNBP sampai Rp 300,3 triliun.
“Kami kasih PNBP sampai Rp 300,3 triliun, masa gak ada yang netes ini, Pak? Ayam pun, kalau cuma diambil telurnya, gak dikasih makan, induknya pun mati. Bahaya ini. Tapi kami kan bukan ayam, kami kan petarung semua di sini,” sebut Bahlil.

