Asing Berbalik Keluar dari SBN dan Saham, Apa Kata Analis dan BI?
JAKARTA, investortrust.id – Aliran dana asing berbalik keluar dari pasar saham domestik pada Selasa (27/8/2024) dengan mencatatkan net sell Rp 0,54 triliun dan di Surat Berharga Negara net sell jumbo Rp 4,09 triliun Senin. Lalu apa kata analis?
“IHSG (indeks harga saham gabungan di BEI) terkoreksi 0,11% ke 7.597 kemarin, disertai dengan munculnya volume penjualan. Namun, selama IHSG masih mampu berada di atas 7.460 sebagai area support-nya, maka posisi saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian wave (v) dari wave [i] dari wave 3, yang berarti IHSG masih berpeluang menguat untuk menguji rentang 7.622-7.664,” kata Technical Analyst MNC Sekuritas T Herditya Wicaksana di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Pria yang akrab disapa Didit ini mengatakan, level support IHSG adalah 7.460 dan 7.386, sedangkan resistance 7.664 dan 7.743. Ia juga merekomendasi buy on weakness untuk saham Amman Mineral Internasiona (AMMN), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), dan Ultrajaya Milk Industry & Trading Company (ULTJ).
Baca Juga
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, dana asing keluar dari pasar saham domestik kemarin, dengan mencatatkan penjualan bersih Rp 0,54 triliun. Hal ini berbalik arah dari pembelian bersih yang belakangan terjadi beruntun, yang pada Senin lalu masih asing mencatatkan net buy Rp 0,93 triliun.
Namun, sepanjang Agustus ini, asing masih mencatatkan pembelian bersih saham di BEI senilai Rp 14,06 triliun month to date. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net buy saham Rp 13,02 triliun,” papar BEI.
Baca Juga
Menkeu Jelaskan Alasan Kenaikan Subsidi dan Kompensasi Energi 17,8% pada APBN 2025
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Senin lalu. Berbalik arah, non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan penjualan neto Rp 4,09 triliun, dibanding hari perdagangan sebelumnya yang mencatatkan net buy jumbo Rp 3,79 triliun.
Sedangkan secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 35,08 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Senin lalu. Secara year to date asing mencatatkan pembelian bersih Rp 1,13 triliun hingga Senin lalu.
BI Prediksi Rupiah Menguat
Sementara itu, mata uang rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam penutupan perdagangan Selasa (27/8/2024). Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah melemah 129 poin ke Rp 15.509/USD, dibanding Senin (26/8) yang berada di level Rp 15.380/USD.
Meski demikian, Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah masih dalam tren menguat ke depan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kurs rupiah akan berada pada kisaran Rp 15.300 hingga Rp 15.700 per USD pada 2025. Proyeksi rata-rata nilai tukar ini di bawah asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 karena sejumlah faktor.
“Pertama, karena Federal Funds Rate (FFR) kami perkirakan tahun ini turun dari 5,5% ke 5% atau turun 50 basis poin (bps). Tahun depan, FFR turun 75 bps. FFR turun menjadi 4,25% pada akhir 2025,” kata Perry saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, di kompleks MPR/DPR, Jakarta, Selasa (27/8/2024).
| Perkembangan rupiah terhadap USD berdasarkan kurs Jisdor BI dalam lima tahun terakhir, hingga 27 Agustus 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Perry mengatakan, FFR yang turun akan membuat aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang -- seperti Indonesia -- meningkat. Hal ini positif bagi rupiah.
"Kedua yaitu fundamental perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan inflasi yang rendah dapat memberikan persepsi positif bagi investor untuk menanamkan portofolio dan investasi di Indonesia," kata Perry.
Ketiga, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga tetap akan menarik kalau yield US Treasury 10 tahun kemungkinan turun dari 3,9% ke 3,6%. "Tinggal spread berapa, apakah nanti pakai (rujukan) India atau apa,” kata dia.
Dalam hitungan BI, kata Perry, investor yang masuk ke SBN lebih besar ketimbang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Tempo hari kami sampaikan ke Bu Menkeu, karena SBN keluar, kami jualan SRBI lebih banyak. Koordinasi kami sangat erat. Ke depan, SBN kita inflow akan lebih besar,” kata dia optimistis.
Perry mengatakan lebih lanjut, BI sedang mengamati sentimen geopolitik. Dia mengatakan tensi ketegangan politik sulit diprediksi. Dua kekuatan besar di dunia saat ini, AS dan Cina, serta Timur Tengah, akan meningkatkan volatilitas pasar global. Dia pun memproyeksi defisit transaksi berjalan RI naik 0,1% hingga 0,9% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2024, menjadi 0,5% hingga 1,3% dari PDB pada 2025.
“Itu beberapa yang kita waspadai,” ujar dia.
DPR Minta Asumsi Makro Diubah
Badan Anggaran (Banggar) DPR tercatat meminta pemerintah menyesuaikan asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saat ini, asumsi makro nilai tukar rupiah di RAPBN tercatat sebesar Rp 16.100/USD.
“Persoalan nilai tukar rupiah selama ini juga selalu membuat kita pening. Grafik transaksi kurs kita dalam jangka panjang cenderung melemah,” kata Ketua Banggar DPR Said Abdullah, saat rapat kerja dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, di Jakarta, Selasa (27/8/2024).
Said mengusulkan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa diubah menjadi Rp 15.900/US$. Saat ini, berdasarkan kurs Jisdor yang dikeluarkan BI kemarin, rupiah berada di level Rp 15.509/USD.
“Untuk tahun 2025, pemerintah mengusulkan kurs Rp 16.100/USD. Pimpinan Banggar DPR mendorong agar kurs bisa lebih rendah di level 15.900/USD,” ujar dia.
(Disclaimer On)

