Indeks Dolar Anjlok, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 15.380/USD Senin
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin (26/8/2024), seiring anjloknya indeks dolar AS. Berdasarkan data kurs Jisdor yang diterbitkan Bank Indonesia sore hari, mata uang Garuda melesat 174 poin atau 1,1% ke level Rp 15.380/USD, dibanding Jumat lalu (23/8/2024) sebesar Rp 15.554/USD.
Rupiah makin perkasa terhadap greenback seiring terus merosotnya indeks dolar. Berdasarkan data Yahoo Finance hingga pukul 17.54 WIB, dollar index merosot ke 100,71 atau terendah sejak 1 Desember 2023. Secara year to date, DXY ini sudah berbalik turun 0,63%.
Baca Juga
Tren pelemahan indeks dolar antara lain lantaran sinyal makin menguat dari bank sentral AS soal arah kebijakan pemangkasan suku bunga acuan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan pemotongan suku bunga acuan Fed Funds Rate akan segera terjadi,
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati juga menyoroti munculnya Cina sebagai kiblat perekonomian dunia baru membuat dolar AS mendapat tandingan. "Itu tidak muncul begitu saja. Cina membeli banyak sekali surat utang AS dan mereka log in menjadi setara. Antara AS dan Cina sekarang tidak bisa dipisahkan. Ini yang disebut kompetisi kekuatan geopolitik, dan di sinilah muncul alternatif," ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.
Pengangguran AS Tertinggi sejak 2021
Analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya menuturkan, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan sudah saatnya kebijakan diubah dan pemangkasan suku bunga semakin dekat. Komentar dovish itu disampaikan pada pidato di acara tahunan Jackson Hole Symposium.
"Hal itu ditopang inflasi AS yang melanjutkan tren pelemahan yang semakin mendekati target 2%, dan pasar tenaga yang 'mendingin'. Ini ditandai dengan tingkat pengangguran di level tertinggi sejak Oktober 2021," ujarnya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Senin (26/8/2024).
Ia mengatakan, mayoritas pelaku pasar masih melihat kecenderungan pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps, dengan probabilitas 76%, pada FOMC September mendatang. Pekan ini, lanjut dia, fokus pasar tertuju pada berbagai rilis data ekonomi AS seperti produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2024. Selain itu, pemesanan barang tahan lama, dan inflasi personal consumption expenditures (PCE) Juli.
Baca Juga
Harga Beli dan Buyback Emas Antam Stagnan Senin Pagi, Ini Rinciannya

