Investasi Meningkat, Menko Airlangga Dorong Aliran Dana ke Padat Karya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus mendorong investasi ke padat karya. Langkah ini diperlukan mengingat realisasi investasi yang masuk berfokus pada industri padat modal.
“Ya jadi harus dibarengi dengan investasi yang labor intensive (padat karya)” kata Airlangga, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Baca Juga
Apindo: Arus Investasi ke Indonesia masih Cenderung Seret Akibat Ketidakpastian Global
Airlangga mengatakan untuk mendorong investasi padat karya, pemerintah akan menyasar industri semikonduktor. Dia mengatakan investasi di industri ini memasuki fase terakhir, berupa pengetesan dan pabrikasi.
“Ini yang terus kita dorong,” kata dia.
Airlangga mengapresiasi capaian Kementerian Investasi/BKPM yang mampu menarik investasi sebesar Rp 829 triliun pada semester-I. Meski begitu, realisasi investasi yang masuk masih didorong oleh sektor industri padat modal.
“Investasi yang terakhir kan kita lihat semuanya di industri baja. Baja itu industri yang capital intensive (padat modal)” ujar dia.
Untuk mendukung industri padat modal, Airlangga menyebut pemerintah telah mempersiapkan politeknik. Dicontohkan, pemerintah pemerintah mendirikan Politeknik Industri Logam untuk mendukung smelter di Morowali.
“Nah, pada waktu di (kementerian) perindustrian kan kita bangun politeknik di Morowali. Kita juga harus bangun misalnya petrokimia di Cilegon, Banten,” kata dia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menyoroti kualitas dan produktivitas pekerja yang dihasilkan dari investasi. Dalam paparannya, selama lima tahun terakhir besaran investasi tak mencerminkan serapan tenaga kerja.
Pada 2019, realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp 809,2 triliun mampu menyerap 1.033.835 pekerja atau 1.277 pekerja per triliun. Setahun setelahnya atau pada 2020, realisasi investasi Rp 826,3 triliun mampu menyerap 1.156.361 pekerja atau 1.371 pekerja per triliun.
Pada 2021, investasi sebesar Rp 901 triliun menghasilkan 1.207.893 pekerja atau 1.340 pekerja per triliun. Pada 2022, investasi sebesar Rp 1.207 triliun menyerap 1.305.001 pekerja atau 1.081 pekerja per triliun. Sementara itu, pada 2023, investasi sebesar Rp 1.418, 9 triliun yang masuk menghasilkan 1.823.543 pekerja atau 1.285 pekerja per triliun.
Baca Juga
Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6-7%, Apindo Ungkap Rasio Investasi Harus ke Level Ini
Padahal, pada 2013, dengan investasi sebesar Rp 398,3 triliun, lapangan kerja yang dihasilkan bisa menyerap 1.829.950 pekerja.
“Kecenderungan penyusutan daya serap tenaga kerja yang tinggal seperempat hanya dalam sembilan tahun,” tulis Shinta.

