Indeks Dolar Menguat, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.224/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan, terdampak menguatnya indeks dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Rabu (24/7/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah ditutup melemah 20 poin di level Rp 16.224/USD, dibanding kemarin yang sempat rebound ke Rp 16.204/USD.
Berdasarkan data dari pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga tergelincir tipis. Hingga pukul 15.50 WIB, mata uang Garuda juga bergerak melemah 6 poin ke level Rp 16.210/USD, setelah hari sebelumnya sempat rebound di Rp 16.204/USD.
Analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, sebagian besar pedagang tetap bias terhadap greenback di tengah ketidakpastian yang terus-menerus mengenai pemilihan presiden (pilpres) AS tahun 2024. Ini terutama setelah Presiden Joe Biden mundur dari pencalonan dan mendukung Wakil Presiden Kamala Harris sebagai kandidat capres mendatang dari Partai Demokrat.
Menurutnya, Harris terlihat dengan cepat mengumpulkan dukungan dari partai tersebut, dan semakin siap untuk berhadapan dengan calon dari Partai Republik, Donald Trump, tahun ini. Bahkan, ia mengatakan, kans Harris untuk mengalahkan Trump semakin terbuka.
"Reuters/Ipsos menunjukkan jajak pendapat Harris sedikit mengungguli Trump, setelah ia mendapat dukungan dari Biden," kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Rabu (24/7/2024).
Baca Juga
Harga Emas Antam Menggeliat Naik Rp 2.000 per Gram Rabu Pagi
Menanti Pertemuan BoJ
Sementara di Jepang, pejabat senior partai yang berkuasa, Toshimitsu Motegi, mengatakan semalam Bank of Japan (BoJ) harus lebih jelas menunjukkan tekad untuk menormalisasi kebijakan moneter, termasuk melalui kenaikan suku bunga yang stabil. BoJ selanjutnya akan menggelar pertemuan untuk menetapkan suku bunga acuan pada 31 Juli mendatang.
Para ekonom mulai membeberkan prediksi terkait arah kebijakan BoJ mengenai suku bunga acuannya. Terakhir kali, BoJ menaikkan suku bunga adalah pada Maret lalu, ke kisaran 0-0,1% dari -0,1%.
"Sebagian besar ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan tersebut," ujarnya.
Baca Juga
Dari Negeri Tirai Bambu, pasar Cina mengalami penurunan yang berkepanjangan dalam beberapa sesi terakhir. Hal itu karena sentimen terhadap negara tersebut memburuk akibat data perekonomian yang mengecewakan, terutama yang menunjukkan pertumbuhan lebih lambat dari perkiraan pada kuartal kedua.
"Hal ini ditambah dengan penurunan suku bunga yang mengecewakan oleh Bank Rakyat," ucapnya.
Sementara, Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis Cina juga tidak memberikan banyak petunjuk mengenai langkah-langkah stimulus yang lebih lanjut. "Ketidakpastian mengenai pemilihan presiden AS juga membebani sentimen terhadap Cina, karena para investor berspekulasi mengenai dampak perubahan dalam pemerintahan AS, terhadap sikap Washington pada negara tersebut," imbuhnya.

