Ancaman Daya Beli Masyarakat Lemah, Prabowo-Gibran Harus Ciptakan Lapangan Kerja
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom dan praktisi pasar saham Hans Kwee mengatakan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menghadapi dua tantangan ekonomi. Pertama, kata dia, ada indikasi daya beli masyarakat yang menurun.
“Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja. Jadi harus menciptakan lapangan pekerjaan supaya tingkat kesejahteraan masyarakat naik,” kata Hans, saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Baca Juga
Penjualan Mobil RI Stagnasi, Daya Beli Anjlok hingga Mobil Bekas Jadi Penyebabnya!
Sementara itu, kata Hans, tantangan kedua yang harus dihadapi Prabowo-Gibran ke depan yaitu menjaga defisit anggaran. Menurut dia, defisit anggaran harus tetap dijaga supaya rupiahnya tetap kuat.
“Iya, disiplin anggaran jadi debt to GDP harus dipertahankan dijaga, biarpun rasio kita relatif aman dibandingkan negara lain tapi kita harus ingat tingkat suku bunga dalam negeri kita relatif tinggi,” kata dia.
Salah satu faktor penurunan daya beli masyarakat dapat terjadi akibat peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan ditetapkan pada Januari 2025. Kenaikan PPN sebesar 12% akan kontraproduktif dengan upaya mendongkrak konsumsi masyarakat.
Padahal, konsumsi masyarakat memiliki porsi 55% terhadap PDB. Kenaikan PPN membuat konsumen harus membayar lebih tinggi produk dan jasa yang diperolehnya. Sementara itu, di sisi lain tidak ada kenaikan penghasilan.
Baca Juga
Selain itu indikasi penurunan daya beli juga terpantau dari data Bank Indonesia (BI) mengenai indeks keyakinan konsumen (IKK) Juni 2024 yang sebesar 123,3. Meski berada di level optimis (>100) angka ini berada lebih rendah ketimbang dua bulan sebelumnya, yaitu April 2024 sebesar 127,7 dan Mei 2024 sebesar 125,2.
Anjloknya IKK selama tiga bulan beruntun itu, kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu karena kelas menengah yang menahan belanja. Ini terjadi saat nilai tukar rupiah masih tertahan.
“Belanja kelas menengah kan enggak kecil-kecil, sehingga mereka ada perilaku optimisme makanya kita senang kurs yang sekarang bisa kita lihat arah perbaikannya,” kata Febrio saat di gedung parlemen, Senin (8/7/2024).
Meski tak mempersiapkan kebijakan khusus terhadap potensi lanjutan pelemahan IKK, Febrio mengatakan pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi makro untuk menjaga sentimen konsumen tetap positif. “Kita tahu biasanya memang kalau lihat kurs bergejolak IKK biasanya respons, makanya kita jagain sumber dari ketidakstabilannya itu yang kita kurangi,” ujar dia.

