Kurs Rupiah Melemah Hari Ini, Menunggu Rilis Survei Konsumen AS
Pengamat menilai pasar tengah menunggu data indeks harga konsumen AS untuk bulan Juni 2024, yang akan dirilis pada Kamis (11/7) waktu setempat. Sedangkan data indeks harga produsen akan dirilis pada Jumat (12/7) waktu setempat.
Baca Juga
Saham Mitratel (MTEL) Ditutup Melesat Kemarin, Penguatan Bakal Berlanjut?
Pada pekan lalu, rilis data tenaga kerja di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu mencerminkan pasar tenaga kerja yang sedikit melemah, sehingga memacu ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed. Meski perekonomian Negeri Paman Sam menambah lebih banyak lapangan kerja di bulan Juni dibandingkan perkiraan, terjadi pula peningkatan tak terduga dalam tingkat pengangguran menjadi 4,1% dari sebelumnya 4%.
Pasar saat ini memperkirakan dua kali penurunan suku bunga Fed Funds Rate pada tahun 2024. Penurunan suku bunga acuan pertama akan dilakukan pada bulan September, menurut CME FedWatch Tool.
“Kami yakin latar belakang fundamental tetap mendukung ekuitas. Ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan pendapatan yang solid, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi pada AI (artificial intelligence),” papar ahli strategi UBS Vincent Heaney dalam catatannya seperti dikutip CNBC.
Menanti Komentar Powell
Sementara itu, analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya mengatakan, pelaku pasar tengah memperkiraan inflasi konsumen AS dalam waktu 1 tahun ke depan. "Inflasi AS kembali turun selama 2 bulan berturut-turut ke level 3% di Juni 2024 (Mei 3,2%). Hal tersebut didasari oleh perkiraan turunnya harga bahan bakar, makanan, dan kesehatan," katanya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Selasa (9/7/2024).
Investor, lanjut dia, hari ini fokus menanti komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell mengenai langkah kebijakan moneter Bank Sentral AS berikutnya. Sedangkan di Asia, pelaku pasar mengkhawatirkan penerapan kenaikan tarif impor atas produk dari Tiongkok.
"Pasalnya Uni Eropa telah efektif menaikkan tarif impor hingga 38% untuk kendaraan listrik asal Tiongkok, yang berlaku 4 Juli 2024 lalu. Pelaku pasar khawatir akan aksi balasan dan memanasnya konflik perang dagang antara AS, Tiongkok, dan Eropa," paparnya.
Selain kekhawatiran perang dagang, ketidakpastian politik di Eropa turut menjadi sentimen negatif. Pasalnya, hasil pemilu putaran kedua di Prancis justru di luar perkiraan, dengan tidak ada partai mayoritas yang memenangkan suara rakyat.
Baca Juga
Kepala BKF: Insentif PPN Pembelian Rumah Berlanjut Bidik Transaksi Lebih dari 10 Ribuan Unit

