Bos Ditjen Anggaran Akui Pelemahan Nilai Tukar Ikut Picu Defisit APBN 2024
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatawarta mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah ikut mengerek defisit pada semester-I 2024. Isa menyebut melemahnya nilai tukar berpotensi membuat belanja pemerintah mengalami defisit 102% dari target.
“Kok bisa 102%? Ini karena kurs kita,” kata Isa saat Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Senin (8/7/2024).
Pelemahan nilai tukar, kata Isa, berkelindan dengan kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) selama semester-I 2024. Saat itu, ICP melonjak dari posisi awal di 2023 sebesar US$ 78,4 per barel menjadi US$ 81,3 per barel.
Baca Juga
Pendapatan Negara Terkoreksi, APBN 2024 Diproyeksi Defisit 2,7%
Posisi ICP ini diprediksi akan berada di rentang US$ 79 hingga US$ 85 per barel pada semester-II 2024. “Kompensasi dan subsidi kita harus penuhi dengan kurs lebih tinggi, dan ICP lebih tinggi juga, itu yang kami perkirakan melampaui pagu yang ditetapkan dalam APBN,” kata dia.
Di tengah pendapatan negara yang stagnan, belanja tersebut terus mengalami kenaikan. Walhasil defisit APBN 2024 diperkirakan membengkak.
Meski demikian, kata Isa, pembengkakan anggaran belanja ini tak menyalahi aturan karena melemahnya rupiah menjadi pemicu utama. Ini menjadi beban biaya subsidi dan kompensasi.
Baca Juga
“Itu diperkenankan dalam Undang-Undang APBN apabila ini disebabkan atau untuk memenuhi subsidi,” kata dia.
Diperkirakan defisit APBN 2024 membengkak dari semula Rp 522,8 triliun menjadi Rp 609,7 triliun, atau naik dari 2,29% dari PDB menjadi 2,7% dari PDB.

