PMI Manufaktur Turun, Kemenkeu Formulasikan Kebijakan Dorong Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2024 terkoreksi dibandingkan Mei 2024. Pada Juni 2024, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,7 atau turun 2,68% dibandingkan Mei 2024 yang mencapai 52,1.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu menyebut, meski turun, PMI Manufaktur Indonesia masih melanjutkan tren ekspansif selama 34 bulan berturut-turut per Juni 2024. Dia mengatakan kinerja manufaktur didorong oleh tingkat output dan permintaan yang masih ekspansif.
“Di tengah stagnasi ekonomi global dan gejolak pasar keuangan, PMI Indonesia masih dalam tren ekspansif. Kita berharap tren ini berlanjut ke bulan-bulan berikutnya dengan kualitas yang semakin baik,” kata Febrio dalam keterangan resmi, Selasa (2/7/2024).
Baca Juga
Febrio mengatakan pemerintah akan memformulasikan dukungan kebijakan untuk membuat tren pertumbuhan ekonomi berlanjut. “Pemerintah mengupayakan berbagai dukungan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas perekonomian nasional ke depan,” ujar dia.
Dalam catatan Kemenkeu, beberapa negara mitra dagang Indonesia juga mencatatkan aktivitas manufaktur ekspansif. PMI manufaktur Cina dan Amerika Serikat, masing-masing di level 51,8 dan 51,7.
Sementara itu, PMI manufaktur negara kawasan ASEAN seperti Vietnam dan Thailand juga ekspansif, masing-masing di level 54,7 dan 51,7. Di sisi lain, aktivitas manufaktur kawasan Eropa masih berada pada zona kontraksi di level 45,6. Negara-negara di kawasan Eropa seperti Jerman dan Prancis mengalami kontraksi masing-masing ke level 43,4 dan 45,3.
Kenaikan Harga Input
S&P Global menyebut penurunan PMI Indonesia disebabkan menurunnya ekspor selama empat bulan berturut-turut. Kondisi ini disinyalir menyebabkan manufaktur Indonesia kehilangan momentum.
Meski demikian, data harapan bisnis untuk 12 bulan mendatang bertahan positif. Ini diikuti dengan kepercayaan diri manufaktur Indonesia secara umum atas kenaikan produksi pada Juni 2025.
“Harapan positif menggambarkan proyek baru, pelanggan baru, kenaikan daya beli klien, penurunan inflasi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung. Namun demikian, tingkat optimisme tidak berubah dari posisi Mei 2024 dan merupakan yang paling lemah sepanjang sejarah survei,” kata dia.
Baca Juga
Minyak Mentah AS Melonjak Lebih dari 2% Jelang Libur ‘Independence Day’
Manufaktur Indonesia juga melaporkan kenaikan harga input rata-rata pada Juni 2024. Hal ini lantaran kenaikan harga bahan baku yang diakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

