Kompak, Asing Berbalik Catatkan Net Buy Saham Rp 0,19 Triliun, di SBN Rp 0,18 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing mulai mengalir masuk kembali ke pasar saham domestik pada Senin (1/7/2024), dengan mencatatkan net buy Rp 0,19 triliun, berbalik arah dari Jumat lalu yang masih mencatatkan penjualan bersih Rp 1,73 triliun. Net capital inflow di pasar saham domestik ini seiring menguatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate pada September mendatang, lantaran inflasi PCE Mei lalu melandai sesuai ekspektasi 2,6% year on year dibanding April 2,7%. Selain itu, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik merilis pada Juni lalu terjadi deflasi 0,08% secara bulanan, lebih dalam dibanding Mei 0,03%.
Namun, sepanjang Juni lalu, asing masih mencatatkan penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 1,47 triliun. “Secara year to date, asing masih mencatatkan net sell saham Rp 7,54 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Senin sore.
Juni, Net Buy SBN Rp 1,13 T
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Jumat lalu (28/6/2024). Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melanjutkan pembelian neto jumbo Rp 2,51 triliun.
Sepanjang Juni lalu, asing sudah mencatatkan penjualan bersih Rp 1,13 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Jumat lalu. Sedangkan secara year to date asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 33,95 triliun hingga Jumat lalu.
Baca Juga
Kembali masuknya dana asing di saham maupun SBN serta rilis data deflasi pada Juni lalu mendorong rupiah melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan hari ini, kian menjauh dari level psikologis Rp 16.400/USD. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar mata uang Garuda menguat 39 poin terhadap greenback ke level Rp 16.355/USD Senin sore.
"Inflasi inti pada Juni 2024 tercatat sebesar 0,10% (month to month), lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya 0,17% (mtm). Inflasi inti yang lebih rendah tersebut dipengaruhi ekspektasi inflasi yang terjangkar, termasuk pada saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha, serta kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 1 Juli 2024.

