Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.439/USD Rabu
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah bergerak melemah 70 poin ke level Rp 16.439/USD, dalam pembukaan perdagangan di pasar spot Rabu (26/4/2024) pagi pukul 09.00 WIB. Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah masih ditutup pada posisi Rp 16.369/USD kemarin.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menyebut, saat ini, investor tengah menanti rilis sejumlah data penting ekonomi Amerika Serikat. Ini termasuk laporan pendapatan dan belanja konsumen di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, untuk kejelasan lebih lanjut mengenai prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Menurutnya, ekspektasi pasar cenderung pada The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada waktu yang tepat. Namun demikian, terdapat dilema bila terlalu dini dikhawatirkan memicu inflasi yang meningkat, sedangkan bila menunda pemangkasan suku bunga akan menimbulkan perlambatan ekonomi yang berujung resesi.
"Investor telah menunggu penurunan suku bunga pertama The Fed. Banyak trader memperkirakan penurunan suku bunga akan terjadi pada bulan September," kata Andry, Rabu (26/6/2024).
Hari sebelumnya, kurs Mandiri mencatat mata uang rupiah terapresiasi sebesar 0,1% ke level Rp 16.375/USD, meski masih terdepresiasi 6,4% year-to-date. Sedangkan dalam perdagangan hari ini, ekonom Mandiri itu memprediksi kurs rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.320-16.409 per dolar AS.
Proyeksi Ekonomi Indonesia Stabil
Sementara itu, Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stabil pada tahun depan dan tahun-tahun mendatang. Proyeksi ini didorong oleh peningkatan belanja masyarakat, peningkatan investasi bisnis, dan permintaan konsumen yang stabil.
Sedangkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan akan mencapai rata-rata 5,1% per tahun, dari tahun 2024 hingga 2026. Pertumbuhan rata-rata diperkirakan dapat dicapai meski ada tantangan dari meredanya lonjakan harga komoditas, peningkatan volatilitas harga pangan dan energi, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Sedangkan keberhasilan kinerja ekonomi Indonesia sebagian besar dinilai berkat kerangka kebijakan makroekonomi yang kuat dari pemerintah. Hal ini membantu menarik investasi.
Sedangkan keberhasilan kinerja ekonomi Indonesia sebagian besar dinilai berkat kerangka kebijakan makroekonomi yang kuat dari pemerintah. Hal ini membantu menarik investasi.
Kenaikan harga pangan tercatat mengerek inflasi saat ini. Inflasi mencapai 2,8% pada Mei 2024, naik dari 2,6% pada Januari 2024. Kondisi iklim yang buruk mengurangi panen beras dalam negeri dan mempengaruhi harga pangan secara luas.
Bank Dunia memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mulai menurunkan suku bunga tahun depan. Sementara itu, pemerintah meningkatkan belanja sosial dan investasi publik, sementara pendapatan menurun karena meredanya lonjakan harga komoditas.
Pada April 2024, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 6,25%. Kenaikan suku bunga BI Rate saat itu dilakukan di tengah bank sentral di negara-negara maju menunda penurunan suku bunga kebijakan, yang memicu aliran keluar dana asing dari portofolio.
Secara umum, bertahan tingginya suku bunga di AS mendorong arus keluar investasi dan menyebabkan tekanan mata uang di Indonesia dan negara berkembang lainnya.
Secara umum, bertahan tingginya suku bunga di AS mendorong arus keluar investasi dan menyebabkan tekanan mata uang di Indonesia dan negara berkembang lainnya.

