Minyak Terkonsolidasi Menyusul Potensi Berakhirnya Perang Gaza
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan Senin (24/6/2024) pagi ini, harga minyak terpantau bergerak terkonsolidasi menyusul sinyal segera berakhirnya perang Gaza dan potensi perang dagang antara Cina dengan Uni Eropa. Meski demikian, situasi keamanan di jalur pelayaran Laut Merah yang masih belum stabil memberikan dukungan terhadap pasar minyak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (23/6/2024) mengatakan bahwa fase pertempuran sengit melawan Hamas di Jalur Gaza akan segera berakhir, tetapi perang tidak akan berakhir sampai kelompok tersebut tidak lagi menguasai daerah kantong Palestina.
Netanyahu juga menambahkan kemungkinan Israel untuk mengerahkan lebih banyak pasukan ke perbatasan utara dengan Lebanon, di mana konflik dengan Hizbullah telah meningkat akhir-akhir ini. Pernyataan Netanyahu tersebut memicu ekspektasi akan segera berakhirnya perang di Jalur Gaza dan juga meredanya ketegangan di perbatasan Lebanon yang meningkat karena dipicu oleh aksi solidaritas Hizbullah terhadap warga Palestina di Gaza.
Baca Juga
Turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, Cina memperingatkan bahwa meningkatnya perselisihan dengan Uni Eropa (UE) mengenai impor kendaraan listrik dapat mengarah pada perang dagang, kata juru bicara Kementerian Perdagangan Cina pada hari Jumat. Peringatan tersebut dipicu oleh usulan Komisi UE untuk menerapkan bea masuk yang tinggi atas impor kendaraan listrik buatan Cina, yang ditanggapi keras oleh produsen mobil asal Cina yang mendesak pemerintah untuk menaikkan tarif impor mobil bertenaga bensin dari Eropa dan pemerintah meluncurkan penyelidikan dumping terhadap impor daging babi UE.
Sementara itu, kelompok Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal di Laut Merah dan Samudera Hindia karena telah mengabaikan larangan untuk memasuki pelabuhan Palestina, kata juru bicara militer Houthi Yahya Saree pada hari Minggu.
Baca Juga
Harga Minyak Meredup Dipicu Sinyal Ekonomi Tiongkok yang Masih Lemah
Sentimen positif lainnya datang dari berita perusahaan minyak negara Petroecuador yang pada akhir pekan lalu menyatakan force majeure atas pengiriman minyak mentah untuk ekspor menyusul penutupan jalur pipa utama dan ladang minyak akibat hujan lebat yang melanda negara tersebut. Berdasarkan data yang dirilis sumber resmi Petroecuador, output minyak mentah dilaporkan turun menjadi sekitar 338.500 bph pada hari Rabu pekan lalu.
Melihat dari sudut pandang teknis, menurut riset ICDX, Senin (24/6/2024) harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 83 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel.

