Poros Lapangan Banteng-Thamrin Kerja Keras Atasi Pelemahan Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) akan terus berkolaborasi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Saat ini, mata uang Garuda loyo menghadapi dolar Amerika Serikat, bergerak ke level Rp 16.430 per dolar AS di pasar spot.
Poros Lapangan Banteng-Thamrin, lokasi dua otoritas fiskal dan moneter itu, akan menggunakan pendekatan fiskal dan moneter untuk menghadapi dinamika yang terjadi. “Kami juga berkoordinasi dengan BI, yang terus mencoba stabilitas nilai tukar. Dalam hal ini, (otoritas) fiskal dan moneter bekerja dan berkoordinasi baik dalam dinamika market dan dinamika global yang tinggi dan proses politik yang terjadi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Baca Juga
Anjlok! Rupiah Tembus 16.420/USD saat BI Umumkan Pertahankan Bunga Acuan
Potensi Spillover
Sri Mulyani mengatakan, dari sisi politik global, perkembangan yang terjadi dalam perekonomian di AS, Eropa, dan Cina memiliki potensi spillover ke Indonesia. Dia mengatakan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan meminimalkan dampak negatif keputusan The Fed yang tidak segera menurunkan suku bunga.
“Juga perkembangan di Eropa,” ujar dia.
Pemerintah juga akan memantau pergerakan nilai tukar dan imbal hasil. Dia mengatakan dua elemen ini sangat dipengaruhi faktor fundamental, yang sebetulnya posisinya sangat kuat pada hari-hari ini.
“Kalau kita lihat dari fundamental seperti indeks penjualan riil masyarakat, yang mencerminkan konsumsi masyarakat, mengalami pemulihan. Ini terutama pada Mei-Juni 2024,” kata dia.
Baca Juga
BI: Defisit Transaksi Berjalan Triwulan II Diprakirakan Rendah
Selain itu, Sri Mulyani mengatakan, Mandiri Spending Index, Indeks Kepercayaan Masyarakat, konsumsi semen, konsumsi listrik, dan PMI’s Manufaktur relatif terjaga. Ini, menurut dia, menjadi pondasi yang baik untuk memproyeksikan perekonomian nasional pada kuartal-II 2024.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dilihat dari faktor fundamental tersebut, seharusnya nilai tukar rupiah menguat. Dia mengatakan, indikasi fundamental ini terlihat dari rendahnya inflasi yang berada di 2,8% secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei dan pertumbuhan ekonomi di 5,1% secara tahunan kuartal I lalu.
“Kredit juga bertambah 12% yoy, demikian juga kondisi ekonomi kita (baik), termasuk imbal hasil investasi yang baik. Itu faktor fundamental yang seharusnya mendukung rupiah menguat,” ucap Perry.
Perry mengatakan, pelemahan rupiah saat ini karena faktor global. Dia mengatakan belum jelasnya posisi Fed Funds Rate membuat pasar menebak-nebak.
“Sampai akhir tahun, sampai berapa kali, menurut perkiraan kami sekali cuma akhir tahun saja (FFR dipangkas),” kata dia.
Selain suku bunga AS, Perry menyoroti kenaikan suku bunga obligasi pemerintahan Presiden Joe Biden. Menurut dia, kenaikan suku bunga obligasi AS dari 4,5% ke 6% untuk pembiayaan utang turut andil melemahkan rupiah. Di Eropa, kata dia, penurunan suku bunga bank sentral Benua Biru membuat sentimen global yang berakhir ke loyonya rupiah.
“Sentimen domestik apa? Dalam kuartal II-2024 yang akan berakhir Juni terjadi kenaikan permintaan korporat. Perusahaan perlu repatriasi dividen dan perlu juga untuk membayar utang. Tapi, nanti di kuartal III nggak ada lagi,” ucap dia.
Perry mengatakan sentimen lain penyebab melemahnya rupiah yaitu persepsi keberlanjutan fiskal ke depan. “Itu membuat sentimen kemudian menjadi tekanan nilai tukar rupiah,” kata dia.

