Pengguna QRIS Tumbuh 213% Menembus 49,76 Juta, BI Jamin Keamanan Transaksi
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 213,31% (year on year). Pertumbuhan jumlah transaksi tersebut ditopang oleh pengguna yang menembus 49,76 juta dan merchant sebanyak 32,25 juta.
Dalam mengoptimalkan layanan kepada pengguna dan merchant, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendrata menjamin keamanan transaksi QRIS. Ia berujar, keamanan pada sistem pembayaran digital QRIS telah memiliki standar nasional.
"QRIS itu sudah kami lengkapi dengan fitur keamanan. Ini sudah mengacu pada internasional best practice," kata Filianingsih saat konferensi pers di kantor BI, Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Baca Juga
SRBI Rp 666,5 Triliun Bantu Stabilitas Rupiah, Persepsi Soal Kesinambungan Fiskal Menekan
Awasi Barcode
Bersama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan pelaku industri penyedia jasa pembayaran (PJP), BI telah melakukan sejumlah sosialisasi serta edukasi terkait keamanan transaksi QRIS kepada para merchant. Melalui sosialisasi tersebut, ia berharap agar merchant selalu memastikan pengawasan terhadap barcode pembayaran yang dimiliki.
"Jangan sampai barcode-nya ditaruh di sembarang tempat," sambungnya.
Bank sentral bersama dengan ASPI juga selalu melakukan pengawasan terhadap PJP QRIS. Hal ini dilakukan agar semakin meningkatkan layanan dan perlindungan kepada konsumen.
Transaksi Digital Banking Rp 5.570,49 T
Sementara itu, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 19-20 Juni 2024, kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital dilaporkan tetap kuat, didukung oleh sistem pembayaran yang memadai. Pada Mei 2024, transaksi BI-RTGS tercatat meningkat 0,16% (yoy), menjadi Rp 14.557,29 triliun.
"Transaksi BI-FAST tercatat Rp 701,61 triliun atau tumbuh 53,08% (yoy). Transaksi digital banking mencapai Rp 5.570,49 triliun atau tumbuh sebesar 10,82% (yoy). Sedangkan transaksi uang elektronik (UE) meningkat 35,24% (yoy) sehingga mencapai Rp 92,79 triliun. Sementara itu, transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM/D turun sebesar 5,41% (yoy), menjadi Rp 615,18 triliun," papar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
BI juga mencatat transaksi kartu kredit masih meningkat 6,60% (yoy), menjadi Rp35,18 triliun. Dari sisi pengelolaan uang rupiah, jumlah uang kartal yang diedarkan (UYD) meningkat 6,82% (yoy), menjadi Rp 1.038,26 triliun.
