PwC Indonesia Optimistis Target Pertumbuhan Ekonomi 2024 Dapat Tercapai
JAKARTA, investortrust.id - PwC Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 masih dapat terjaga sesuai target 5,2%. Dalam Indonesia Economic Update, PwC Indonesia menyebut terpenuhinya target ini berkaca pada kondisi ekonomi Indonesia 2023 yang dapat bertahan dari kondisi global.
“Meskipun terdapat tantangan pada tahun 2023, Indonesia telah menunjukkan ketahanan terhadap guncangan global dan basis ekonomi yang semakin terdiversifikasi diharapkan dapat memitigasi dampak buruk tersebut, sehingga berpotensi memberikan landasan yang kokoh bagi pertumbuhan yang berkelanjutan," kata PwC Indonesia Investment Director, Julian Smith, dalam keterangan resminya, Selasa (18/6/2024).
Julian memperkirakan perekonomian global akan mengalami perlambatan pada 2024. Diperkirakan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) sebesar 2,9%, turun dari perkiraan pertumbuhan sebesar 3,2% pada tahun 2023.
Penurunan ini terutama disebabkan penerapan kebijakan di negara-negara maju, kebijakan moneter yang lebih ketat dan pengurangan dukungan fiskal. Oleh karena itu, negara-negara tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan yang moderat pada tahun 2024, sementara negara-negara berkembang diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang relatif lebih stabil.
Baca Juga
Industri Manufaktur Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo
Julian mengatakan, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05% pada tahun 2023, meskipun perekonomian global melemah. Pertumbuhan tahun 2023 itu sedikit lebih rendah dibandingkan 2022 sebesar 5,31%. Kendati demikian, pertumbuhan tersebut tetap patut diperhatikan di tengah tantangan perekonomian global.
Inflasi turun secara signifikan menjadi 2,61%, turun dari 5,51% pada tahun sebelumnya, yang mencerminkan efektivitas kebijakan moneter negara.
Julian mengatakan Indonesia menargetkan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun 2024, meskipun terdapat tantangan seperti penurunan harga komoditas dan kondisi perekonomian di China, mitra dagang utama Indonesia.
Baca Juga
"Konsumsi domestik, yang menyumbang 57% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2023, diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama dalam mencapai target ini terutama setelah memperhitungkan kenaikan gaji sebesar 8% untuk 3,7 juta pegawai negeri serta peningkatan belanja untuk kegiatan terkait pemilu," kata dia.
Kemenangan Prabowo
Julian mengatakan kemenangan pemilu Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 dan komitmennya untuk melanjutkan beberapa kebijakan pemerintahan saat ini menandakan iklim investasi yang stabil. Terpilihnya Prabowo, kata dia, mengurangi ketidakpastian politik, yang penting untuk memungkinkan Indonesia mencapai target investasi sebesar Rp 1.650 triliun pada tahun 2024, dengan setidaknya 50% berasal dari investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024 menargetkan penerimaan negara sebesar Rp 2.802,3 triliun dan belanja negara sebesar Rp 3.325,1 triliun sehingga diperkirakan akan mengalami defisit sebesar Rp 522,8 triliun. Julian mengatakan, inflasi Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan berkisar 2,6%, dengan tantangan berupa volatilitas harga pangan dan bahan bakar. Potensi lain yang jadi pengganggu yaitu rantai pasokan global yang mempengaruhi harga barang impor.
Baca Juga
Sementara itu, nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah (IDR) terus menunjukkan tren peningkatan, terutama didorong oleh sikap The Fed yang hawkish dalam mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sikap ini berkontribusi pada depresiasi nilai tukar Rupiah yang mencapai level terendah dalam 3,5 tahun terakhir yaitu Rp 16.249 per US$ 1 pada bulan April 2024.
Sebagai responsnya, Bank Indonesia telah menetapkan BI Rate sebesar 6,25% untuk mengatasi perlambatan pasar ekonomi global dan untuk mengantisipasi suku bunga Federal Reserve yang lebih tinggi.
Di tengah tantangan perekonomian ini, Indonesia masih mempunyai tingkat lapangan kerja yang tinggi yaitu sebesar 69,80%. Salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, meskipun lebih dari separuh pekerjanya berada di sektor informal.
Julian mengatakan Indonesia memperoleh manfaat dari peningkatan ekspor produk logam peleburan akibat kebijakan hilirisasi. Namun, kata dia, masih ada potensi pertumbuhan lebih lanjut yang signifikan dengan memperluas jangkauan produk-produk teknologi tinggi dan memaksimalkan dampaknya terhadap lapangan kerja, sehingga dapat membantu memperkuat perekonomian dalam menghadapi tekanan keuangan eksternal.

