Bunga The Fed Peluang Dipangkas dan Ekonomi Cina Pulih, Rupiah Menguat ke Rp 16.289/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguatterhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (13/6/2024) pagi ini, seiring ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed paling lambat dilakukan pada Desember nanti dan pemulihan ekonomi Cina. Hard currency seperti euro tercatat juga menguat.
Kurs mata uang Garuda terhadap greenback tercatat bergerak ke Rp 16.289/USD pada pukul 09.06 WIB. Merujuk data RTI, rupiah menguat 1 poin atau 0,01% dibanding kemarin. Sedangkan secara year on year rupiah masih melemah 5,81%.
“Sesuai perkiraan pasar, pada FOMC hari ini (waktu Indonesia), The Fed masih menahan suku bunga di level 5,25-5,50%. The Fed juga mengapresiasi data inflasi Amerika Mei 2024 yang hanya tumbuh sebesar 3,3%, lebih rendah dari bulan sebelumnya di 3,4% dan dari perkiraan pasar," kata analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Kamis (13/6/2024).
| Perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga 12 Juni 2024, berdasarkan kurs Jisdor BI. Infografis: diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Indikasikan Sekali Pemotongan Tahun Ini
Berdasarkan proyeksi anggota The Fed, suku bunga di tahun 2024 akan dipangkas satu kali sebesar 25 bps. Penurunan Fed Funds Rate paling lambat dilakukan pada Desember mendatang.
Sementara itu, data RTI menunjukkan, euro menguat ke level 1,0806/USD. Euro terapresiasi 0,0002 poin atau 0,03% dibanding hari sebelumnya.
“Hari ini pelaku pasar akan mencermati berbagai rilis data ekonomi global. Pasar menanti komentar Bank Sentral Eropa, serta data indeks harga produsen dan klaim pengangguran AS,” imbuh Head of Research Mega Capital Sekuritas ini.
Pemulihan Tiongkok
Sementara di Asia, Cheril mengungkapkan, rilis inflasi Tiongkok periode Mei 2024 tumbuh 0,3% year on year. Ini sedikit di bawah perkiraan pasar di level 0,4%.
Kendati demikian, inflasi di negara tujuan ekspor Indonesia terbesar tersebut terjadi beruntun selama 4 bulan terakhir, yang mengisyaratkan kelanjutan pemulihan ekonomi. Hal ini berarti stimulus yang dilakukan Bank Sentral Cina (PBoC) mulai menunjukkan hasil positif.
Baca Juga
IHSG Potensi Menguat, Simak Rekomendasi Saham NCKL, ADMR, ADRO, dan ESSA
Hal itu juga mendorong kuatnya harga minyak nabati lantaran impor Tiongkok dengan penduduk terbanyak di dunia itu tinggi. Harga kedelai di pasar AS menguat dan diperkirakan mendorong penguatan harga minyak sawit juga.
"Apalagi, diperkirkan ada pengurangan laju produksi minyak sawit di pabrik-pabrik Semenanjung Selatan selama periode 1-10 Juni. Harga CPO acuan Bursa Malaysia masih bergerak stabil pada rentang harga MYR 3.900-4.100 per ton," paparnya.

