Gonjang-Ganjing Rupiah Diredam dengan Peningkatan Produktivitas
Oleh Haryo Kuncoro,
Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta
INVESTORTRUST.ID– Sektor eksternal ekonomi Indonesia tengah mendapat tekanan. Nilai tukar rupiah pada pekan pertama April 2024 mencatatkan pelemahan ke level terendah dalam 4 tahun terakhir. Meski sebelumnya sempat menguat oleh sinyal pemangkasan suku bunga The Fed, kurs rupiah kembali melemah menembus Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah tak lepas dari penguatan indeks dolar AS, seiring imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,309%. CDS (credit default swap) Indonesia pun nangkring di level 73,92, meningkat dari 72,22 pada minggu sebelumnya. Akumulasi dari kedua faktor tersebut sudah cukup bagi pemodal asing untuk memindahkan dana ke negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
Aliran modal keluar niscaya mengurangi pasokan valuta asing di pasar keuangan dalam negeri. Sementara, tensi permintaan valuta asing tetap tinggi, untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan korporasi. Sampai di sini, nilai tukar rupiah sudah tergambar merupakan resultan dari sejumlah faktor.
Baca Juga
BEI Sebut Konflik Timur Tengah Penyebab IHSG Anjlok 1,68% ke Level 7.164
Dalam konteks ini, inovasi piranti finansial yang didesain oleh Bank Indonesia (BI) patut diapresiasi. Instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah BI), SVBI (Sekuritas Valas BI), dan SUVBI (Sukuk Valas BI) menjadi aset finansial alternatif bagi pemodal asing, agar tidak buru-buru memindahkan dananya ke luar negeri.
Kehadiran BI di pasar valuta asing juga menjadi catatan penting. Cadangan devisa BI pada akhir Maret 2024 yang susut menjadi 140,4 miliar dolar AS, toh sebagian besar digunakan untuk intervensi. Tanpa piranti finansial anyar dan intervensi BI, pelemahan nilai tukar rupiah diyakini akan lebih tajam.
Bisa Keliru Tafsir
Namun demikian, berbagai langkah di atas sejatinya masih sebatas pada ikhtiar untuk menyeimbangkan antara volume pasokan dengan permintaan valuta asing. Kelangkaan pasokan valuta asing diupayakan terpenuhi dari aliran masuk modal asing lewat berbagai inovasi instrumen finansial tadi.
Cerita yang sama tampaknya berlaku pada intervensi pasar. Ketimpangan antara pasokan dengan permintaan valuta asing ditutup dari cadangan devisa. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di atas bersifat sementara dengan tingkat efektivitas berjangka pendek pula.
Menyadari konfigurasi problematika stabilitas di atas, fenomena gonjang-ganjing rupiah perlu dilihat secara komprehensif dalam perspektif jangka panjang. Sudah menjadi kemakfuman ekonomi bahwa sektor finansial merupakan cermin dari sektor riil, namun fokus sektor finansial yang lebih tercurah pada harga bisa keliru tafsir.
Pergerakan harga yang dinamis di pasar finansial toh bisa saja dipicu oleh aksi spekulasi. Kasus penghentian mendadak (sudden stop) dan pembalikan modal (capital reversal) di Meksiko pada akhir 1990-an menjadi pelajaran berharga, bahwa kinerja pasar finansial bisa saja independen dengan sektor riil.
Kuantitas Ekuilibrium
Perlu juga diperhatikan, di balik harga keseimbangan ada kuantitas ekuilibrium. Artinya, kuantitas adalah pasangan variabel yang punya nilai strategis. Diagnosa yang keliru menghasilkan kebijakan yang salah sasaran, yang dengan alur logika ini, kebijakan stabilisasi harga seharusnya menyasar pada kuantitas.
Kembali ke fluktuasi nilai tukar rupiah, sumber pokok kesenjangan antara pasokan dan permintaan valuta asing berawal juga dari kesenjangan. Indonesia masih dihadapkan dengan risiko hadirnya defisit kembar (twin deficit), yakni defisit neraca fiskal dan neraca transaksi berjalan (current account).
Baca Juga
Gapmmi Cemas Industri Mamin Kian Tertekan Dampak Konflik Iran-Israel
Dari sisi neraca fiskal, pemerintah dinilai sangat agresif meningkatkan belanjanya. Sementara, penerimaan negara terus menurun sejalan dengan normalisasi harga komoditas. Hal ini membersitkan kekhawatiran terkait pembiayaan defisit APBN, sehingga memberikan sentimen negatif di pasar keuangan.
Kalaupun defisit fiskal tertanggulangi, persoalan tidak selesai sampai di situ. Persoalan yang lebih berat justru terjadi pada neraca transaksi berjalan. Ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah, sedangkan impornya berupa bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang belum mampu diproduksi sendiri.
Data terkini menunjukkan surplus neraca dagang (trade account) mencatatkan saldo positif selama 45 bulan berturut-turut, Namun, jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya, surplus cenderung menurun. Lagi pula, surplus neraca dagang belum mampu menutup defisit neraca jasa (service account).
Artinya, ada aliran permanen valuta asing keluar yang kian menekan rupiah. Selama neraca transaksi berjalan masih defisit, nilai tukar rupiah sejatinya tidak ‘berhak’ berapresiasi. Sebagai rujukan, Indonesia dan Filipina adalah dua negara di ASEAN yang masih berkutat dengan defisit neraca transaksi berjalan, dari total 10 anggota.
Alhasil, bauran kebijakan (policy mix) untuk meningkatkan produktivitas menjadi kunci pembuka stabilisasi nilai tukar. Lewat cara ini, Indonesia menjadi produsen tulen, alih-alih tergantung pada produk impor, plus punya kapasitas mengekspor barang bernilai tambah tinggi, bukan sebatas hanya bahan mentah.
Dengan demikian, pada akhirnya, sektor finansial dapat berjalan seiring dengan sektor riil. Gonjang-ganjing rupiah hanya temporer, berimbas sesaat pelemahan daya saing. Namun, secara simetris, stabilitas rupiah akan merepresentasikan kemandirian jangka panjang dalam menghasilkan barang yang dibutuhkan untuk produksi nasional. Bukan begitu? ***

