Perekonomian Dunia Melambat, Ini Dampak ke Sektor Pariwisata Menurut Menkeu
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan sektor pariwisata sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Tantangan tersebut adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
Sri Mulyani menyebut melambatnya pertumbuhan ekonomi global tidak terlepas dari tingkat inflasi yang tinggi pascapandemi Covid-19. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya konflik antara Rusia dan Ukraina yang sukses membuat harga berbagai komoditas penting melambung tinggi.
Dampaknya terhadap sektor pariwisata tentunya tak main-main. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global akan menekan kemampuan membayar atau daya beli masyarakat secara luas.
“Apabila perekonomian global sedang tidak baik-baik saja, maka wisatawan tidak akan datang berkunjung. Semuanya berdasarkan pada kemampuan mereka untuk menjangkau sesuatu, termasuk berwisata,” katanya saat membuka International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 yang diselenggarakan di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Rabu (5/6/2024).
Baca Juga
Menparekraf Resmi Buka International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 di Jakarta
Lebih lanjut, situasi geopolitik yang memanas menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menciptakan perang dagang antarnegara secara tidak langsung. Sejauh ini, tercatat adanya peningkatan tarif atau pembatasan perdagangan hampir empat kali lipat yang turut memengaruhi banyak negara dunia.
Dalam paparannya, Bendahara Negara menjelaskan bahwa pembatasan perdagangan oleh sejumlah negara meningkat dari 982 pada 2029 menjadi 3.000 pada 2023.
Kondisi ini memaksa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sedemikian tinggi dalam waktu singkat. Dalam kurun waktu 18 bulan, The Fed tercatat sudah menaikkan suku bunga hingga 500 basis poin.
Kebijakan ini tentu saja menjadi pertimbangan kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia. Lagi-lagi kebijakan-kebijakan ini akan memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modalnya.
“Tingkat suku bunga tinggi memengaruhi secara langsung selera investasi. Jika anda semua membicarakan mengapa investasi melambat? Itu karena biaya pinjaman investasi menjadi lebih tinggi, dan membuat banyak pihak lebih menghindari risiko,” paparnya.
Baca Juga
ITIF 2024, UN Tourism Paparkan Keuntungan Berinvestasi di Sektor Parekraf Indonesia
Khusus investasi sektor pariwisata di Tanah Air, Sri Mulyani meminta semua pihak untuk berhati-hati. Karena sinyal-sinyal kurang baik masih terlihat di tengah pertumbuhan kunjungan wisatawan pascapandemi Covid-19.
“Salah satunya kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) juga masih belum pulih dibandingkan sebelum pandemi yang kontribusinya terhadap PDB berkisar 3,8%. Angka lebih rendah dari angka 4,7% sebelum pandemi Covid-19,” ujarnya.
Sebagai catatan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 1,14 juta kunjungan, jauh meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya, yakni 2022 dan 2023 yang masing-masing hanya 129.800 dan 400.800 kunjungan.

