Bos Ritel Sebut Tapera Bisa Buat Gerus Daya Beli Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menilai aturan pemotongan upah atau gaji pegawai untuk Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) bisa berimbas terhadap penurunan daya beli masyarakat.
"Berapapun yang dipotong pasti mengurangi belanja. Teori sederhana lah, pengurangan belanja, konsumsi turun," ucapnya saat ditemui di Kantor Aprindo, Jakarta Selatan, Senin (3/6/2024).
Baca Juga
Celios: Dampak Tapera Lebih Untungkan Pemerintah Dibanding Pelaku Usaha dan Pekerja
Apabila daya beli atau belanja masyarakat turun, maka pria yang juga menjabat Chairman of FAPRA (Federation of Asia-Pasific Retail Association) ini menyebutkan, bisa berimplikasi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi melemah.
"Konsumsi turun, artinya growth of economy juga akan turun," ungkap Roy Mandey.
Oleh sebab itu, Roy berharap, kebijakan pemotongan 2,5% terhadap setiap penerima gaji perlu dikaji ulang. Pasalnya, kondisi perekonomian saat ini belum stabil, apalagi geopolitik dan peperangan masih terus berlanjut.
Baca Juga
Geopolitik tersebut pun menurut Roy membuat Harga minyak dunia melonjak. Bahkan belum lama ini, Bank Indonesia (BI) telah menaikan suku bunga acuan menjadi 6,25% yang bisa berimbas pada pembelian rumah, hingga cicilan mobil serta motor.
"Tapera itu sebenarnya menurut kami perlu dikaji dan tidak pada momentum saat ini. Pada saat geopolitik, ini geopolitik belum selesai," tandasnya.

