Ekonom: Deflasi Mei 2024 Ada Pengaruh Faktor Normalisasi Harga Musiman
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan deflasi yang terjadi pada Mei 2024 ada faktor pengaruh normalisasi harga musiman setelah Lebaran. Sedangkan inflasi dari sisi permintaan masih cenderung stabil.
“Secara umum, mengingat faktor musiman sudah berlalu, normalisasi harga-harga pangan dan tarif transportasi pasca-Lebaran menjadi pendorong deflasi,” kata Josua, Jakarta, Senin (3/6/2024).
Baca Juga
Komponen Inti Mengalami Inflasi Mei, Komponen Diatur Pemerintah Deflasi
Inflasi Sisi Permintaan Stabil 1,93%
Josua mengatakan lebih lanjut, inflasi dari sisi permintaan masih cenderung stabil di kisaran 1,93% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga menilai, inflasi yang terjadi pada Mei 2024 karena efek normalisasi harga pangan dan biaya transportasi pasca-Idulfitri. Andry mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,29% secara bulanan.
“Beras terus menunjukkan penurunan harga dengan kontribusi 0,15%. Ini diikuti daging ayam 0,03% dan ikan segar 0,03%” kata dia.
Baca Juga
Komisi XI DPR Setujui Destry Damayanti Kembali Jabat Deputi Gubernur Senior BI
Dia mengatakan penyumbang deflasi tersebut juga berasal dari penurunan tarif angkutan kota yang kembali normal pasca-Idulfitri.
Sementara itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, deflasi bulanan (month to month/mtm) seperti yang terjadi pada Mei 2024 biasa terjadi setelah inflasi saat Hari Raya Idulfitri. “Terlihat secara historis sejak 2020, umumnya, pasca-Lebaran biasanya terjadi deflasi,” kata Amalia di kantornya, Jakarta, Senin (3/6/2024).
Amalia mengatakan, deflasi yang terjadi pada Mei 2024 dikarenakan penurunan harga secara umum pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok transportasi. Meski demikian, dia mengatakan, deflasi pasca-Lebaran 2024 ini tidak sedalam tahun-tahun sebelumnya.
“Sebagai contoh pada Juni 2021, di mana tahun itu Lebaran terjadi pada 31 Mei. Pada bulan Juni, terjadi deflasi 0,16%,” kata dia.

