Airlangga: Pondok Pesantren Bisa Bangkitkan Keuangan Inklusif
BOGOR, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut peran pondok pesantren dalam mengembangkan keuangan inklusif. Menurut Airlangga potensi ekonomi dari pesantren didukung dengan jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 39,6 ribu dan lebih dari 4,8 juta santri.
“Pondok pesantren memiliki potensi besar dalam mendukung keuangan inklusif. Kerja sama dengan pesantren merupakan hal yang penting,” kata Airlangga di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6/2024).
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) ini mengatakan dukungan untuk pondok pesantren dalam pengembangan keuangan inklusif tecermin dilandasi oleh Peraturan Presiden (PP) Nomor 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif. Aturan ini, kata Airlangga, memuat tentang akselerasi keuangan kepada masyarakat, melalui koordinasi pemerintah pusat, daerah, dan organisasi masyarakat termasuk ormas.
Baca Juga
Menko Airlangga: Izin Usaha Tambang untuk Ormas adalah Privilege
“Apalagi ormas keagamaan mendapatkan privilege atau keistimewaan oleh Bapak Presiden bahwa ormas keislaman boleh punya tambang,” kata dia.
Untuk itu, Airlangga melihat para santri di pondok pesantren memiliki kesempatan yang sangat terbuka di era digitalisasi. Melihat potensinya, dia berharap pondok pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran keagamaan, tapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat.
“Jadi kita lihat potensi yang besar dari generasi muda, ada 65 juta orang dan ini adalah potensi bonus demografi,” ujar dia.
Untuk meningkatkan peran pondok pesantren, pemerintah menyediakan berbagai bantuan pembiayaan. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Ferry Irawan mengatakan permodalan untuk pondok pesantren di antaranya melalui kredit usaha rakyat (KUR), pembentukan bank wakaf mikro (BWM), dan penyaluran pembiayaan ultramikro (UMi).
Baca Juga
“Jadi kalau masyarakat kita bisa mengakses layanan keuangan, ujung-ujungnya bisa sejahtera,” ujar Ferry.
Dia mengatakan pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan rekening melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar) untuk mendukung peningkatan inklusi keuangan.
“Target inklusi keuangan adalah cukup besar, hampir 90%. Tentu, saya berharap target inklusi keuangan 90% bisa dicapai dengan kerja sama dengan pondok pesantren,” ujar dia.

