Ekspor Batu Bara Membaik, Capai US$ 2,61 Miliar April
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja ekspor batu bara Indonesia tercatat membaik pada April 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas energi ini meningkat 1,84% secara bulanan (month to month/mtm), menjadi US$ 2,61 miliar.
“Ekspor batu bara, besi, dan baja mengalami peningkatan secara bulanan. Sedangkan ekspor CPO (crude palm oil) dan turunannya mengalami penurunan,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, di kantornya, Jakarta, Rabu (15/5/2024).
Pudji mengatakan, ekspor batu bara memiliki andil sebesar 14,27% dengan kenaikan bulanan sebesar 1,84%. Pada April 2024, ekspor batu bara Indonesia mencapai US$ 2,61 miliar, dengan peningkatan lebih didorong volume ekspor yang naik dari bulan sebelumnya. Pada April 2024, volume ekspor batu bara tercatat sebesar 34,28 juta ton, dibandingkan Maret 2024 sebesar 33,31 juta ton.
"Untuk harga batu bara secara global turun. Harga melemah dari US$ 76,85 per ton menjadi US$ 76,05 per ton," tuturnya.
Meski mencatatkan peningkatan secara bulanan, ekspor batu bara secara tahunan (year on year/yoy) masih turun 19,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Surplus Neraca Perdagangan
Pudji juga memaparkan Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan terbesar dengan India pada April 2024. Surplus menembus US$ 1,46 miliar.
“Berikutnya, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat tercatat surplus US$ 1,09 miliar. Sedangkan dengan Filipina sebesar US$ 0,7 miliar,” kata Pudji.
Baca Juga
Neraca Perdagangan Surplus 48 Bulan Beruntun, Capai US$ 3,56 Miliar April
Pudji mengatakan surplus terbesar dengan India didorong kinerja ekspor komoditas, di antaranya bahan bakar mineral atau batu bara. Selain itu, lemak dan minyak hewan/nabati terutama minyak sawit, serta logam mulia dan perhiasan atau permata.
Surplus dengan AS Turun
Sementara itu, surplus perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami penurunan dibandingkan pada Maret 2024 sebesar US$ 1,5 miliar. Surplus perdagangan dengan Filipina juga tercatat lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang sebesar US$ 0,89 miliar.
Di sisi lain, Pudji mengatakan, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan tiga negara. Defisit terdalam Indonesia pada kinerja neraca perdagangan April 2024 terjadi dengan Australia.
“Indonesia mengalami defisit dengan tiga negara terdalam. Ini dengan Australia defisit sebesar US$ 0,44 miliar, dengan Brasil defisit US$ 0,39 miliar, dan dengan Thailand defisit US$ 0,16 miliar,” kata dia.
Pudji mengatakan defisit terdalam yang dialami Australia didorong komoditas bahan bakar mineral bijih logam terak dan abu, serta serelia.
Bagaimana dengan Cina?
Pudji mengatakan, Cina masih menjadi negara penyumbang impor nonmigas terbesar Indonesia pada April 2024. Kontribusinya sebesar 33,06%, meski impor nonmigas dari Cina menurun menjadi US$ 4,33 miliar.
Sementara itu, ekspor Indonesia ke Cina tercatat US$ 4,28 miliar. Ekspor ke Cina masih menjadi yang terbesar bagi Indonesia dengan porsi 23,43%.
“Pada April 2024, Tiongkok masih menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan kontribusi 33,06% terhadap total impor nonmigas Indonesia. Ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya 31,25%,” kata Pudji.
Baca Juga
BPS: Industri Pengolahan Kontributor Terbesar Ekspor Indonesia
Meski tidak termasuk tiga besar negara yang menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit pada April 2024, Cina membuat neraca perdagangan nonmigas Indonesia masih mengalami defisit terdalam selama periode Januari-April 2024. Dalam periode ini, Indonesia mengalami defisit US$ 3,14 miliar berdagang dengan Cina.
Pudji mengatakan komoditas yang diimpor Indonesia dari Cina di antaranya, mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya sebesar US$ 1,05 miliar, mesin atau peralatan mekanik dan bagiannya sebesar US$ 0,96 miliar, plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 0,24 miliar, serta besi dan baja sebesar US$ 0,18 miliar. “Dan kelima yaitu kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 0,16 miliar,” ujar dia.

