Lebaran-Pemilu Usai, Pemerintah Diminta Dorong Belanja untuk Jaga Konsumsi Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id - Usai rangkaian pemilihan umum (pemilu) dan momen Lebaran 2024, pemerintah diminta untuk tetap menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat. Terlebih saat ini perekonomian domestik diancam dengan adanya inflasi tinggi sejumlah komoditas akibat ketidakstabilan global.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Eliza Mardian menyebut, langkah pemerintah menjaga tingkat konsumsi masyarakat menjadi krusial, mengingat kontribusi besar sektor tersebut dalam menopang perekonomian nasional. "Sekitar separuh perekonomian Indonesia didorong oleh sektor konsumsi swasta. Golongan masyarakat yang berkontribusi banyak terhadap sektor konsumsi adalah kelas menengah atas, dengan rasio 48% terhadap total konsumsi," kata Eliza kepada Investortrust.id, Senin (13/5/2024).
Ia mengatakan, berikutnya adalah kelas menengah yang memiliki kontribusi sebesar 35%. Sedangkan kelas bawah kontribusinya 17%.
Dalam menjaga tingkat konsumsi masyarakat kelas menengah atas, ia mengatakan, pemerintah dapat memberikan sinyal positif untuk membangun kepercayaan terhadap kondisi dan prospek ekonomi ke depan. Hal ini agar mereka lebih terdorong untuk berbelanja.
Selain itu pemerintah juga didorong untuk dapat menjaga tingkat inflasi, utamanya inflasi pangan. Disebut Eliza, lebih dari 60% pengeluaran masyarakat menengah bawah digunakan untuk membeli bahan makanan.
"Saat ini, inflasi pangan masih relatif tinggi," sebut Eliza.
Terkait hal tersebut, pemerintah dapat menjamin kelancaran distribusi bahan pangan dan pengawasan ketat, agar tidak terjadi aksi spekulatif baik oleh pelaku pasar maupun konsumen. Hal ini disebut Eliza menjadi alternatif menjaga harga pangan di tingkat konsumen.
Optimalisasi Bansos untuk Tingkatkan Penghasilan
Kemudian dalam menjaga daya beli masyarakat bawah, lanjut dia, pemerintah dapat mengoptimalkan anggaran belanja dengan mengalokasikan anggaran perlindungan sosial (perlinsos) menjadi lebih produktif. Hal ini diharapkan dapat menimbulkan multiplier effect di tengah masyarakat.
Menurut Eliza, sekitar 75% lebih anggaran pemerintah disalurkan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat bawah melalui program bantuan sosial (bansos). Sementara di satu sisi, yang diperlukan masyarakat bawah adalah akses kesempatan untuk meningkatkan penghasilan.
"Jadi, pemerintah perlu merancang agar bansos bisa produktif dan membangun kemandirian masyarakat miskin. Dengan demikian, konsumsinya akan lebih berkualitas dan berkelanjutan," tutur Eliza.
Eliza juga meminta agar pemerintah menunda kebijakan yang dapat menggerus daya beli masyarakat. Salah satunya sepertinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Karena jika harga BBM dinaikkan, maka akan mendorong kenaikan harga-harga barang/jasa lainnya," papar Eliza.
Indeks Keyakinan Konsumen Naik
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) baru saja merilis hasil survei konsumen sepanjang April 2024, pada Senin (13/5/2024) pagi tadi. Rilis tersebut mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
"Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2024 sebesar 127,7, lebih tinggi dibandingkan 123,8 pada bulan sebelumnya," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 13 Mei 2024.
Berdasarkan survei yang dilakukan BI, meningkatnya keyakinan konsumen pada April 2024 didorong oleh menguatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IKE tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya, terutama pada Indeks Penghasilan.
"Saat Ini, IEK juga menguat pada seluruh komponen pembentuknya. Ini utamanya pada Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha," paparnya.

