ASEAN+3 Bahas Penguatan Jaring Pengaman Keuangan
JAKARTA, investortrust.id – ASEAN+3 membahas penguatan jaring pengaman keuangan untuk fasilitas Rapid Financing Facility (RFF). Inisiatif tersebut diharapkan dapat membantu kawasan Asia dan Pasifik untuk mendapatkan likuiditas, dalam menghadapi risiko nonsektor keuangan seperti pandemi dan bencana alam.
"Kami menghadiri ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting+3 (AFMGM+3) di Georgia, yang membahas perkembangan stabilitas dan kebijakan ekonomi makro dan keuangan masing-masing negara dan kawasan. Selain itu, mendiskusikan upaya-upaya penguatan kerja sama keuangan ASEAN+3, dengan salah satu agenda penting yang dibahas dalam AFMGM+3 tahun ini mengenai penguatan jaring pengaman keuangan untuk fasilitas (RFF)," kata
Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati yang juga Gubernur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Selasa (7/5/2024)
Baca Juga
Jerman Puji Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Salah Satu Tertinggi di ASEAN
Dalam hal ini, lanjut Sri, Indonesia juga berkomitmen untuk selalu mendorong peningkatan kapasitas ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), dalam melaksanakan fungsi pemantauan ekonomi kawasan dan memperkuat jaring pengaman keuangan regional. Selain itu, Indonesia mendukung pengembangan pasar keuangan berkelanjutan (sustainable finance market) di ASEAN, termasuk obligasi hijau (greenbond) dan obligasi berkelanjutan (sustainablebond).
Reformasi Bigger, Better, Bolder
Menkeu Sri juga menghadiri Governor’s Plenary, yang menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim. Selain itu, menghadiri “Governors Business Session” yang menyerukan agar ADB dapat bekerja sama dengan sektor swasta dan filantropi untuk memfasilitasi pendanaan campuran (blendedfinance), serta menekankan reformasi menuju bigger, better, dan bolder ADB. Indonesia juga menyerukan ADB untuk mendukung Small Islands Developing States (SIDS) dan negara rentan dalam bentuk mobilisasi pendanaan melalui program Co-financing dan Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular.
Dalam agenda lainnya, Menkeu Sri menjadi panelis dalam seminar “Achieving Climate Outcomes for Transformation”. Menkeu menyampaikan bahwa peran Kemenkeu sangat penting dalam mendorong investasi dan memperdalam pasar keuangan.
Mengakhiri agenda Pertemuan Tahunan ADB di Georgia, Menkeu menjadi panelis dalam seminar “Governor’s Seminar: Toward Climate-Friendly Globalization” bersama Presiden ADB Masatsugu Asakawa, Menteri Keuangan Georgia Lasha Khutsishvili, dan Menteri Keuangan Bangladesh Hasan Mahmood Ali. Menkeu RI berbagi pandangannya mengenai upaya Indonesia membangun ekonomi yang ramah lingkungan serta kontribusinya dalam mata rantai perdagangan global.
Baca Juga
Di sela pertemuan utama, Menkeu Sri juga mengadakan beberapa pertemuan bilateral. Ini di antaranya dengan dengan Presiden ADB Masatsugu Asakawa, Deputi Perdana Menteri dan Menkeu Fiji Biman Prasad, Menteri Keuangan Jepang Shun’ichi Suzuki, dan Deputi Pertama Perdana Menteri merangkap Menteri Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Georgia.
Pada sejumlah pertemuan itu, Menkeu RI menegaskan komitmen Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan, di tengah situasi global yang penuh tantangan. Sri juga berdiskusi mengenai transisi energi hingga penguatan kerja sama antarnegara, baik dari sisi ekonomi, perdagangan, dan investasi.
"Pertemuan Tahunan ADB merupakan salah satu bentuk nyata komitmen Indonesia dan negara-negara anggota ADB dalam meningkatkan kerja sama pada tingkat global. Tujuannya untuk mengatasi berbagai tantangan global secara bersama-sama, meningkatkan kualitas hidup, memitigasi perubahan iklim, serta mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," paparnya.

