Kinerja Solid Bank BCA Berlanjut hingga 2025
Oleh Victoria Venny,
Research Analyst MNC Sekuritas
INVESTORTRUST.ID – Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan hasil operasional yang solid sepanjang tahun 2023. Kinerja harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini juga lumayan, dengan potensi capital gain sekitar 10,57% dalam tiga bulan terakhir.
Harga saham tertinggi dalam setahun terakhir mencapai Rp 9.800, sedangkan harga terendah Rp 8.000. Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (02/02/2024), harga saham emiten berkode BBCA tercatat sebesar Rp 9.650 hingga pukul 13.54 WIB, atau terkoreksi 0,52% dari harga penutupan hari sebelumnya.
Berdasarkan catatan BEI, bank ini saham mayoritasnya 54,94% digenggam PT Dwimuria Investama Andalan, milik konglomerat terkaya Indonesia Hartono Bersaudara. Hingga Kamis (01/02/2024), emiten bank ini memuncaki daftar emiten berkapitalisasi pasar terbesar di BEI, dengan market cap menyentuh Rp 1.184 triliun.
Baca Juga
Gandeng Jamkrindo, BCA Komitmen Dorong Penyaluran KUR Berkualitas
Laba Melonjak 19,4%
BCA tercatat membukukan laba bersih menembus Rp 48,6 triliun tahun lalu, melonjak 19,4% year on year (YoY). Laba itu sesuai dengan target dan konsensus kami, karena kuatnya ekspansi pertumbuhan net interest income (NII) dan pengurangan biaya provisi sebesar 50% YoY, yang menghasilkan Cost of Credit (CoC) terendah sepanjang masa sebesar 0,3%.
Net interest margin (NIM) tetap flat secara quartal-on-quartal (QoQ) di 5,5%, dan diperkirakan akan tetap stabil di 5,5%-5,6% sepanjang tahun ini. Manajemen BCA juga melihat kemungkinan adanya peningkatan loan yield sebesar 25-50 bps.
Baca Juga
Poin Penting Lain
Poin penting lain, kredit tumbuh 6% QoQ atau 14% YoY, menembus Rp 810,3 triliun tahun lalu, dengan hampir semua segmen mencapai pertumbuhan dua digit. Sedangkan target pertumbuhan kredit sebesar 9%-10% tahun ini, dibanding 10%-12% tahun lalu.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank only juga menunjukkan perbaikan, turun 20 bps dari 2,0% di sembilan bulan pertama tahun lalu menjadi 1,8% fiscal year 2023. Manajemen BCA merevisi target rasio loan at risk (LAR) ke kisaran 4%-6% pada tahun ini, yang menjustifikasi rendahnya panduan CoC sebesar 0,3%-0,4%.
Kami memperkirakan, ke depan, masih ada potensi kejutan pertumbuhan kredit, ditambah dengan imbal hasil aset yang lebih tinggi. Selain itu, penghematan biaya kredit dan Return On Equity (ROE) yang stabil.
Kami memproyeksikan laba bersih Bank BCA tahun ini bisa menembus Rp 53,6 triliun. Laba masih bisa berpeluang menguat ke Rp 59,2 triliun tahun depan.
Dengan mempertimbangkan proyeksi kinerja BCA tetap solid hingga tahun depan, kami memberikan rekomendasi beli BBCA dengan target price (TP) lebih tinggi sebesar Rp 10.500. Ini menyiratkan 4,6 kali perkiraan Price-to-Book Value (PBV) tahun 2024. Sedangkan risiko negatif yang bisa terjadi adalah pertumbuhan pinjaman lebih lambat dari perkiraan. ***
