Deflasi Harga Pangan Dorong Inflasi April Turun ke 0,25%
JAKARTA, investortrust.id – Tingkat inflasi month to month (mtm) April 2024 sebesar 0,25%. Inflasi bulanan ini turun drastis 0,27 persen poin dari sebelumnya pada Maret lalu 0,52% mtm, didorong penurunan harga berbagai komoditas pangan seperti cabai merah dan beras usai Lebaran 10 April 2024.
Demikian dikatakan Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Kamis (2/5/2024). "Inflasi bulanan April 2024 lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun lalu. Komoditas yang harganya turun adalah cabai merah, beras, telur ayam ras, dan cabai rawit," papar Amalia Adininggar.
| Tingkat inflasi month to month (m-to-m) April 2024 sebesar 0,25%. Inflasi bulanan ini turun drastis 0,27 persen poin dari sebelumnya pada Maret lalu 0,52% mtm, didorong penurunan harga berbagai komoditas pangan seperti cabai merah dan beras usai Lebaran 10 April 2024. Sumber: BPS. |
Baca Juga
The Fed Tahan Bunga, Kurs Rupiah Kompak Menguat Rp 16.199/USD dan Euro 0,7976/USD
Berdasar wilayah, sebanyak 34 dari 38 provinsi Indonesia mengalami inflasi bulanan, sedangkan lainnya menunjukan deflasi. Inflasi tertinggi pada April 2024 sebesar 1,20% terjadi di Provinsi Papua dan Papua Tengah.
Amelia menjelaskan lebih lanjut, tingkat inflasi year to date (ytd) April 2024 sebesar 1,19%. Sementara itu, secara tahunan (year on year), inflasi pada bulan April 2024 mencapai 3,00%.
Secara yoy, kinflasi provinsi tertinggi terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 4,65%, dengan IHK sebesar 106,70 dan terendah terjadi di Provinsi Papua sebesar 1,78% dengan IHK sebesar 104,12. Sedangkan inflasi kabupaten/kota yoy tertinggi terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 7,56% dengan IHK sebesar 108,41 dan terendah terjadi di Kabupaten Belitung Timur sebesar 0,78 % dengan IHK sebesar 104,11.
Amelia menjelaskan lebih lanjut, inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Ini adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,04%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,67%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,50%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99%; kelompok kesehatan sebesar 2,08%; kelompok transportasi sebesar 1,33%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,58%; kelompok pendidikan sebesar 1,72%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,47%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,31%. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,13%.
Ia menyebut, penyumbang utama inflasi secara tahunan adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 1,98%. "Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah beras, daging ayam ras, bawang merah, tomat, sigaret kretek mesin (SKM), bawang putih, dan cabai merah," ujar Amalia.

