Ekonomi RI Dinilai Cukup Resilien jika Konflik Iran-Israel Berkepanjangan, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, ekonomi Indonesia cukup resilien seandainya konflik Iran-Israel berlangsung panjang. Menurutnya, Indonesia hanya terkena dampak tidak langsung (indirect) dari konflik tersebut.
“Kalau krisis berkepanjangan, yang ada adalah loser dan big losers. Jadi semua akan kalah, semua akan rugi. Tapi, seberapa besar kerugiannya itu tergantung posisi ekonomi dan geopolitik masing-masing negara,” ujar Wijayanto dalam webinar yang diselenggarakan Indef dan Universitas Paramadina, Senin (22/4/2024).
Kekhawatiran soal ekonomi Indonesia tidak resilien dengan adanya konflik ini dikarenakan Timur Tengah memproduksi 35% minyak dunia. Adapun 30% minyak dunia itu diekspor dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz yang lebarnya hanya 40 km, di mana Iran punya kontrol luar biasa terhadap selat tersebut.
Baca Juga
Wijayanto menerangkan, minyak yang diekspor dari Selat Hormuz itu mayoritas menuju ke Asia, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Maka dari itu, menurutnya, jika terjadi perang di Timur Tengah dan Selat Hormuz diblokade, maka negara-negara tersebut yang akan terdampak paling parah.
“Tentunya negara seperti Indonesia, interaksinya tidak langsung dengan Timur Tengah, karena impor kita dari mereka tidak terlalu signifikan. Ekspor kita ke Timur Tengah juga tidak terlalu signifikan. Kalaupun ada impact pasti yang sifatnya indirect, dari sisi investasi, kurs, dan barangkali aspek logistik,” sebutnya.
Itulah mengapa Wijayanto meyakini kalau Indonesia termasuk negara yang relatif resilien dibandingkan dengan negara-negara lain akibat konflik Iran-Israel ini. Adapun negara yang paling tidak resilien menurut Wijayanto, yang pertama adalah negara-negara di Timur Tengah sendiri.
“Kemudian negara-negara di Asia yang sangat menggantungkan minyak dari Timur Tengah, yang sangat tergantung kepada lalu lintas yang bebas dan aman di Selat Hormuz. Jepang sangat tergantung pada minyak dari Timur Tengah, kemudian China, Korea Selatan, India, Singapura, Thailand, dan Filipina. Mereka lebih menghadapi masalah berat dibanding Indonesia,” papar Wijayanto.
Baca Juga
Ekonom Paparkan Dampak Negatif Konflik Iran - Israel Bagi Ekonomi Indonesia
Lebih lanjut Wijayanto menyampaikan, permasalahannya bagi mereka bukan hanya harga minyak yang meningkat, tapi dari mana mereka mendapatkan minyak.
Menurutnya, itu juga permasalahan besar karena mobilisasi atau pergantian sumber suplai minyak dari satu tempat ke tempat yang lain memerlukan waktu bulanan, bahkan bisa satu tahun lebih, karena penyiapan logistiknya tidak bisa dilakukan seketika begitu saja.
Sementara itu, Vice Director Indef, Eko Listiyanto menyebutkan, meski Indonesia tak terkena dampak langsung dari konflik Iran-Israel, namun jika perang terus berkelanjutan maka tidak mudah juga bagi Indonesia untuk mengatasinya.
“Karena kalau misalkan ASEAN sebagai salah satu mitra strategis kita dalam jualan, misalnya Thailand atau Malaysia terkena dampak lebih parah, itu lama-lama akan menggerus kemampuan mereka untuk membeli produk-produk kita,” ujar Eko.

