Pengamat Ini Sebut Konflik Israel-Iran Bukan Pemicu Koreksi Rupiah, Tapi Faktor Ini…
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengungkap bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukan akibat konflik Iran-Israel.
Dia menagtakan, konflik Iran-Israel tersebut hanya dijadikan kambing hitam atas pelemahan rupiah hingga sempat menembus Rp 16.227,7. Tanpa konflik di Timur Tengah tersebut, rupiah kemungkinan besar tetap akan melemah.
Baca Juga
“Apa pun permasalahan kita, salahkan ke Timur Tengah. Misalnya, rupiah melemah. Kalau dilihat dalam sebulan terakhir, 1 April serangan Israel ke Kedutaan Iran, kemudian 13 April serangan Iran ke Israel, kita lihat tidak ada dampak yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah,” kata Wijayanto dalam webinar yang diselenggarakan INDEF dan Universitas Paramadina, Senin (22/4/2024).
Jika menarik timeline lebih jauh atau dalam lima tahun terakhir, menurut dia, sebenarnya banyak fenomena sebelumnya yang lebih dahsyat dibandingkan peningkatan eskalasi Iran-Israel. Tetapi, apapun yang terjadi tren rupiah melemah terhadap US$ selalu merupakan sesuatu yang sangat kentara.
“Jadi saya rasa ada atau tidak adanya krisis Timur Tengah, rupiah akan terus melemah. Karena permasalahan kita bukan permasalahan eventual (karena event di luar negeri), tapi kita punya berbagai masalah fundamental,” ujar dia.
Baca Juga
Menkeu: Pemerintah dan BI Sudah Siapkan Strategi Jaga Rupiah
Wijayanto lantas memaparkan pergerakan nilai tukar US$ terhadap 13 major currencies di dunia. Tercatat dalam seminggu terakhir, rupiah mengalami depresiasi 0,66%.
“Kemudian sebulan terakhir rupiah terdepresiasi 3,22%, yang merupakan depresiasi terbesar di antara 13 major currencies. Sedangkan setahun terakhir rupiah terdepresiasi 9,27%, nomor dua depresiasi terbesar setelah Yen,” terang Wijayanto.
Baca Juga
Ekonom Paparkan Dampak Negatif Konflik Iran - Israel Bagi Ekonomi Indonesia
Maka dari itu, Wijayanto pun menyimpulkan bahwa posisi rupiah dengan adanya atau tidak adanya krisis di Timur Tengah, kecenderungannya memang melemah. Bahkan, rupiah melemah bukan hanya terhadap US$, tapi juga mata uang lainnya.
“Kalau kita buka perbandingan nilai tukar rupiah terhadap seluruh mata uang di dunia, yang dalam data ada 159, maka dalam satu bulan terakhir rupiah melemah terhadap 134 mata uang dunia. Dalam setahun terakhir, rupiah melemah terhadap 130 mata uang dunia,” terang Wijayanto.

