Oleh-oleh Sri Mulyani dari Forum G20: Pentingnya Perangi Kelaparan dan Kemiskinan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani Indrawati membagikan “oleh-oleh” usai menghadiri Finance Minister and Central Bank Governors (FMCBG) G20 di Sao Paulo, Brazil. Sejumlah tantangan yang dihadapi dunia adalah masih tingginya suku bunga bank global serta bagaimana upaya memerangi kelaparan dan kemiskinan.
Sri Mulyani mengatakan, meskipun ada ekspektasi dan harapan akan turun di paruh kedua tahun ini, lingkungan perekonomian global masih relatif lemah. “Dari kegiatan G20 Brazil, tema yang dikedepankan adalah inklusi sosial termasuk upaya memerangi kelaparan,” ujar Sri Mulyani, usai menghadiri Mandiri Investment Forum, Jakarta, Selasa (05/03/2024).
Selain itu, kata Sri Mulyani, transisi energi dan upaya pembangunan berkelanjutan juga menjadi tema sentral pembahasan.
Dari sisi fiskal dan beban utang, Sri Mulyani menyebut perlunya reformasi lembaga tata kelola tingkat global. Khususnya membangun bank multilateral yang efektif.
“Dipertemuan G20 kami juga membahas pendekatan dua pilar perpajakan global. Ini merupakan dua elemen penting pertemuan G20,” kata dia.
Dari isu yang dibahas tersebut, Sri Mulyani menyebut Indonesia dapat membagikan pengalaman terutama program jaring pengaman sosial. Dia menyebut selama pandemi, pemerintah Indonesia menggunakan basis program keluarga harapan (PKH) dan bantuan sosial (bansos) sesuai target kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Ini satu pengalaman yang sangat baik dan menarik karena tidak semua negara punya pengalaman yang sama mengenai isu kesetaraan dalam penyediaan pangan untuk warga rentan,” kata dia.
Untuk pembiayaan iklim, Sri Mulyani mengatakan pemerintah Indonesia menekankan mekanisme transisi energi dan Just Energy Transition Partnership (JUST). Meski demikian, dia menyebut perlunya penekanan pada kesempatan dan kendala untuk pembiayaan terhadap perubahan iklim ini.
Sebelumnya, Sri Mulyani menyebut para menkeu dan gubernur bank sentral anggota G20 sepakat pemulihan ekonomi mengalami perbaikan. Meski demikian, prospek pertumbuhan jangka menengah masih terlihat lemah.
Dia menyebut situasi yang penuh tantangan ini memperburuk tekanan sosio-ekonomi dan lingkungan hidup yang telah ada. Bahkan, kata dia, memberi dampak negatif terhadap penduduk miskin dan rentan, yang sebagian besar tinggal di negara-negara berkembang.
Untuk itu, kata dia, dalam FMCBG G20, para menkeu dan gubernur bank sentral berpandangan untuk melanjutkan upaya membuat bank-bank pembangunan multilateral (Multilateral Development Banks, MDBs) secara lebih baik, besar, dan efektif dengan merujuk pada capaian saat Presidensi Italia, Indonesia, dan India.
Selain itu, para menkeu dan gubernur bank sentral mendorong segera diimplementasikannya dua pilar perpajakan internasional (Two-Pillar Solution). Utamanya untuk penandatanganan Konvensi Multilateral Pilar 1 pada akhir Juni 2024.
Baca Juga

