Prinsip Saling Menguntungkan, Indonesia Berperan Aktif dalam Forum Ekonomi Internasional
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia menekankan prinsip kerja sama saling menguntungkan dengan semua negara. Hal ini ditunjukkan Indonesia dalam berbagai forum kerja sama internasional, seperti ASEAN, G20, APEC, RCEP, dan forum kerja sama internasional lainnya.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso yang hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia telah tergabung dengan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), yaitu kerja sama ekonomi yang diprakarsai oleh Amerika Serikat dan mengatur norma-norma untuk mencapai standar tinggi di kawasan Indo-Pasifik. Forum IPEF menyiapkan empat pilar Kerjasama, yaitu perdagangan, rantai pasokan, ekonomi bersih, dan ekonomi adil.
Forum IPEF telah menghasilkan kerja sama rantai pasok. Melalui IPEF, Indonesia, Amerika Serikat, dan 12 negara lainnya juga sepakat untuk berdiskusi terkait critical minerals, yang juga merupakan yang pertama diadakan di dunia.
“Secara umum, IPEF sudah sesuai dengan yang kita perjuangkan bersama-sama. Dari 4 pilar, semua pembahasan sudah selesai, dan ini menjadi wujud konkret kita untuk berperan aktif, berperan besar dalam kerja sama economic framework di kawasan Indo-Pasifik,” kata Sesmenko Susiwijono.
Kemudian dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui transformasi kebijakan ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia, dia mengatkan, Indonesia sedang dalam proses aksesi menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Sesmenko Susiwijono menambahkan, Indonesia juga menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan lima negara anggota BRICS, khususnya di bidang perekonomian. Dengan keterbukaan penuh, pemerintah terus memastikan kerja sama dengan BRICS sejalan dengan prioritas perekonomian nasional.
Terkait kerja sama APEC, Indonesia bersama seluruh anggota APEC telah menyampaikan komitmen di berbagai bidang, seperti mempercepat pengembangan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta menciptakan keamanan, ketahanan dan akses di kawasan Asia-Pasifik.
Lebih lanjut, dalam skema Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), Pemerintah mendorong kembali memanfaatkan kerja sama terutama untuk pasar Amerika Latin sebagai salah satu strategi dalam mengembangkan non-traditional market dari pasar ekspor Indonesia.
“Yang terakhir kami ingin melaporkan terkait DEFA, Digital Economy Framework Agreement, salah satu deliverables dari ASEAN Chairmanship kita. Indonesia menjadi koordinator DEFA dan tahun ini kita sudah memulai. Kita menargetkan pertumbuhan digital economy di ASEAN akan meningkat dua kali lipat dan mencapai US$ 2 triliun pada 2030,” terang Sesmenko Susiwijono.

